Harga Minyak Melemah 3 Hari Beruntun Imbas Ketegangan AS-UE
Rabu, 23 Juli 2025 | 08:44 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga minyak global kembali tergelincir pada Selasa (22/7/2025), menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan ini dipicu oleh meredupnya harapan tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, yang memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, terutama di pasar energi terbesar dunia.
Melansir Reuters, Rabu (23/7/2025), harga minyak Brent turun sebesar 82 sen atau 1,2% menjadi US$ 68,39 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus, yang habis masa berlakunya hari ini, tertekan hingga US$ 1,05 atau 1,6% ke posisi US$ 66,15 per barel. Kontrak WTI untuk pengiriman September juga terkoreksi 87 sen atau 1,3% menjadi US$ 65,08 per barel.
Seorang diplomat Uni Eropa mengungkapkan bahwa blok tersebut tengah mempertimbangkan langkah balasan lebih luas terhadap AS, seiring makin suramnya prospek kesepakatan dagang.
Presiden AS Donald Trump telah memberi tenggat waktu hingga 1 Agustus bagi mitra dagang AS untuk menyelesaikan perundingan, atau menghadapi tarif impor yang lebih tinggi. Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif hingga 30% atas produk dari Uni Eropa.
“Tarif kini menjadi isu sentral menjelang tenggat waktu yang ditetapkan AS,” tulis analis dari Ritterbusch and Associates dalam catatan risetnya.
Kesepakatan antara AS dan India pun dinilai sulit tercapai sebelum batas waktu tersebut, menurut sumber di pemerintahan India.
Pada sisi lain, pelemahan harga minyak juga dipengaruhi oleh penurunan harga solar yang cukup signifikan. Komoditas yang menjadi tulang punggung sektor industri ini anjlok hampir 3% ke level US$ 102,5 per barel. Padahal sebelumnya, pasokan solar global yang terbatas sempat menjadi motor penggerak harga minyak.
Namun, pelemahan harga minyak mentah diprediksi tidak akan berlangsung tajam. Ritterbusch and Associates menyebut ada kemungkinan pemerintah AS akan menunda atau mengurangi tarif yang diancamkan.
Sementara itu, jajak pendapat Reuters terhadap sejumlah analis memperkirakan bahwa stok minyak mentah AS mengalami penurunan sekitar 600.000 barel dalam sepekan yang berakhir 18 Juli lalu. Penurunan ini bisa menjadi penopang bagi harga minyak dunia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




