ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ditjen Bea dan Cukai: Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Bea Masuk Turun Drastis 5,1%

Sabtu, 11 Oktober 2025 | 21:02 WIB
YM
YM
Penulis: Yurike Metriani | Editor: YM
Produksi beras nasional Januari–November 2025 yang diperkirakan mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi beras nasional Januari–November 2025 yang diperkirakan mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (Kementerian Pertanian/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat capaian positif sepanjang tahun 2025. Kebijakan swasembada pangan yang dijalankan pemerintah berhasil memperkuat ketahanan pangan nasional dan menekan impor, sekaligus mendorong peningkatan pendapatan negara dari ekspor.

Laporan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menunjukkan bea masuk nasional hingga Agustus 2025 tercatat sebesar Rp 32,2 triliun, turun 5,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi karena berhentinya impor beras, gula konsumsi, dan jagung pakan, menyusul meningkatnya produksi dalam negeri.

"Kita ada kebijakan swasembada pangan, jadi Bulog itu tidak mengimpor beras, kemudian juga ada larangan impor gula konsumsi, tapi gula produksi masih dan pakan jagung ini juga kita dilarang," terang Direktur Penerimaan dan Perencanaan Strategis DJBC Muhammad Aflah Farobi.

ADVERTISEMENT

Hal ini sejalan BPS yang juga mencatatkan peningkatan produksi beras nasional Januari–November 2025 yang diperkirakan mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebuah bukti nyata ketangguhan pangan nasional.

Selain menekan impor, kinerja ekspor sektor pertanian menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 38,25 persen pada periode Januari–Agustus 2025, dengan nilai mencapai US$ 4,57 miliar, naik dari US$ 3,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Agustus 2025, nilai ekspor pertanian mencapai US$ 0,6 miliar, naik 10,98 persen dibandingkan Agustus 2024 yang sebesar US$ 0,54 miliar. Kontribusi sektor pertanian terhadap total ekspor nonmigas nasional tercatat sebesar US$ 0,60 miliar dari total US$ 23,89 miliar.

Peningkatan volume ekspor komoditas pertanian yang signifikan turut berdampak pada kenaikan penerimaan bea keluar (ekspor). Penerimaan dari bea keluar bahkan melonjak 71,7 persen yoy mencapai Rp 18,7 triliun. Lonjakan ini dipicu salah satunya dari crude palm oil (CPO).

Kondisi ini memperlihatkan bahwa sektor pertanian tidak hanya menjadi penopang pangan nasional, tetapi juga penggerak pertumbuhan ekonomi dan penyumbang devisa negara.

“Turunnya impor dan meningkatnya ekspor pertanian berdampak langsung pada peningkatan pendapatan negara. Artinya, sektor pertanian kini bukan hanya penyedia pangan, tetapi juga penghasil devisa yang signifikan,” terang Mentan Amran.

Mentan Amran menegaskan, kondisi ini menunjukkan keberhasilan nyata dari program swasembada yang kini telah berjalan efektif di lapangan.

“Kita bersyukur, tahun ini tidak ada impor beras dan jagung. Ini bukti bahwa produksi pangan nasional meningkat dan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri,” ujar Mentan Amran lebih lanjut.

Sebelumnya, berdasarkan data BPS pada tahun 2023 Indonesia mencatatkan impor beras sejumlah 3,06 juta ton dengan nilai sekitar US$ 1,79 miliar. Sedangkan pada tahun 2024, impor beras Indonesia sekitar 4,52 juta ton dengan nilai US$ 2,71 miliar. Artinya, setidaknya sepanjang 2023-2024 Indonesia perlu mengeluarkan US$ 4,5 miliar untuk mengimpor beras dari luar negeri dan nilai tersebut hanya dinikmati importir dan petani luar negeri. Dengan tidak adanya impor beras, setidaknya terdapat devisa yang dihemat dan dinikmati langsung para petani Indonesia.

Peningkatan produksi dan ekspor pertanian memberikan efek positif terhadap kesejahteraan petani. Berdasarkan data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2025 mencapai 124,36, naik 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 123,57.

Kementan menilai tren peningkatan NTP ini menjadi indikator bahwa kebijakan swasembada, kenaikan HPP, dan dorongan ekspor berjalan efektif dan memberikan hasil nyata di tingkat akar rumput.

“Swasembada bukan hanya tentang tidak impor, tapi memastikan petani hidup layak. Dengan produksi meningkat, ekspor tumbuh, dan NTP naik, kesejahteraan petani kita makin kokoh,” pungkas Amran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kementan Siapkan Rp 400 Miliar untuk Kejar Swasembada Bawang Putih

Kementan Siapkan Rp 400 Miliar untuk Kejar Swasembada Bawang Putih

EKONOMI
Mentan Temukan 130 Perusahaan Sawit Belum Naikkan Harga TBS

Mentan Temukan 130 Perusahaan Sawit Belum Naikkan Harga TBS

EKONOMI
Siapkan Dana Rp 9,95 T, Mentan Kumpulkan Penyedia Bibit Perkebunan

Siapkan Dana Rp 9,95 T, Mentan Kumpulkan Penyedia Bibit Perkebunan

EKONOMI
Kementan dan BRIN Kerja Sama Perkuat Riset Pertanian

Kementan dan BRIN Kerja Sama Perkuat Riset Pertanian

EKONOMI
Kementan Perketat Pengawasan untuk Berantas Mafia Pangan Nasional

Kementan Perketat Pengawasan untuk Berantas Mafia Pangan Nasional

EKONOMI
Stok Hewan Kurban Nasional Surplus 800.000 Ekor

Stok Hewan Kurban Nasional Surplus 800.000 Ekor

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon