AS Pertimbangkan Kontrol Ekspor Suku Cadang Boeing ke China
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 21:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Amerika Serikat (AS) akan mempertimbangkan langkah pembatasan ekspor terhadap suku cadang pesawat Boeing ke China.
Melansir CNBC, Sabtu (11/10/2025), kebijakan ini disebut-sebut menjadi bagian dari respons Washington terhadap keputusan Beijing yang memperketat ekspor mineral tanah jarang, bahan penting bagi sektor teknologi dan pertahanan.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan hal tersebut di Gedung Putih pada Jumat (10/11/2025) waktu setempat.
Ia menegaskan, kebijakan ini dapat mencakup sejumlah barang strategis yang selama ini menjadi bagian dari hubungan dagang kedua negara.
“Kita memiliki banyak produk bernilai tinggi, termasuk pesawat terbang. China memiliki banyak pesawat Boeing dan mereka memerlukan suku cadangnya, serta berbagai komponen penting lainnya,” ujar Trump saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai komoditas yang mungkin dikenakan kontrol ekspor.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, terutama setelah China membatasi ekspor mineral tanah jarang seperti gallium dan germanium, bahan penting dalam pembuatan cip semikonduktor, perangkat komunikasi, hingga teknologi militer.
Pembatasan itu dianggap Washington sebagai bentuk tekanan ekonomi terhadap industri teknologi AS
Data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium menunjukkan, maskapai-maskapai China saat ini memiliki sedikitnya 222 pesanan jet Boeing yang belum terealisasi.
Selain itu, sekitar 1.855 pesawat Boeing tercatat aktif beroperasi di negara tersebut, sebagian besar di antaranya merupakan Boeing 737 yang menjadi tulang punggung penerbangan domestik China.
Jika kebijakan kontrol ekspor ini benar diterapkan, industri penerbangan China berpotensi menghadapi gangguan operasional, mengingat sebagian besar armadanya masih bergantung pada suku cadang dan dukungan teknis dari Boeing.
Pada sisi lain, langkah ini juga dapat memperdalam rivalitas ekonomi antara Washington dan Beijing di tengah upaya kedua negara mempertahankan dominasi di sektor teknologi dan manufaktur global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




