Manufaktur Jadi Kunci Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Selasa, 21 Oktober 2025 | 15:38 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty menilai sektor manufaktur menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai target 8 persen. Namun, ia menilai masih ada sejumlah aspek yang harus diperbaiki agar target tersebut dapat terwujud.
Telisa menjelaskan, pemerintah saat ini memiliki ambisi besar untuk membawa Indonesia keluar dari middle income trap. Menurutnya, langkah tersebut bisa dicapai melalui knowledge creation dan productivity improvement dengan memperkuat sektor industri manufaktur.
“Pemerintah untuk mencapai target Asta Cita pertumbuhan ekonomi 8% itu punya target growth industry-nya juga harus 8%-9%, bahkan kalau bisa 10%,” ujar Telisa dalam acara Investor Market Today, Selasa (21/10/2025).
Ia mengakui, sektor manufaktur Indonesia sempat mengalami perlambatan saat pandemi Covid-19, tetapi kini mulai menunjukkan pemulihan di tengah ketatnya persaingan global. Telisa menilai, Indonesia bisa mencontoh strategi Vietnam, yang sukses menjaga pertumbuhan ekonominya lewat dorongan sektor industri.
“Kita bisa belajar dari Vietnam. Pada kuartal III 2025, pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapai 8,22%, didorong sektor manufaktur, industri, dan ekspor yang tinggi,” paparnya.
Telisa berharap, pertumbuhan industri manufaktur nasional yang saat ini berada di level 4,94% bisa terus meningkat hingga melampaui 5%.
“Yang perlu didorong agar manufaktur kita tetap bertahan pertumbuhannya. Kalau bisa makin ditingkatkan, dari 4,94% harapannya bisa di atas 5%,” tambahnya.
Lebih lanjut, Telisa menilai bahwa selama satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, arah kebijakan ekonomi sudah berada pada jalur yang tepat (on track).
Ia menilai pemerintah mulai berhasil menumbuhkan kawasan industri baru yang didukung oleh deregulasi serta kebijakan pro-industri.
Namun, Telisa mengingatkan masih ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan oleh pemerintah.
“Masih ada PR yang perlu dibenahi pemerintah, antara lain ketergantungan impor dan sumber daya manusia (SDM) industri,” ujarnya.
Telisa juga menekankan bahwa pertumbuhan industri manufaktur tidak boleh hanya bersifat jangka pendek. Ia menyoroti pentingnya regulasi yang dapat menopang keberlanjutan sektor tersebut.
“Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang (UU) kawasan industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan ini harus dijadikan momentum jangka panjang,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




