ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Suntikan Rp 200 T Sulit Terserap Akibat Demand Kredit Melambat

Jumat, 14 November 2025 | 18:21 WIB
CS
MK
Penulis: Chesa Andini Saputra | Editor: MBK
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers terkait pencairan dana pemerintah Rp 200 triliun untuk lima bank Himbara di Jakarta, Jumat (12/9/2025).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers terkait pencairan dana pemerintah Rp 200 triliun untuk lima bank Himbara di Jakarta, Jumat (12/9/2025). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menginjeksi dana sebesar Rp 200 triliun ke Himbara untuk mendorong perputaran ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa pertumbuhan kredit perbankan masih lesu. Ia memperkirakan laju pertumbuhan kredit perbankan sampai akhir 2025 hanya berada di kisaran 8–11%, lebih rendah dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 10,39%.

Kepala Ekonomi BCA, David Sumual, mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada persoalan dari sisi supply perbankan. Masalah justru berasal dari sisi permintaan kredit.

ADVERTISEMENT

“Tidak terlalu ada masalah sebenarnya dari sisi supply. Masalah utamanya memang masih di sisi demand,” ungkap David kepada Beritasatu.com, Jumat (14/11/2025).

David menjelaskan, tingginya ketidakpastian global membuat pelaku usaha memilih bersikap wait and see. Banyak pengusaha dan investor lebih memilih menggunakan dana internal (retained earnings) daripada mengambil kredit baru karena risiko ekonomi yang masih tinggi.

Ia menambahkan, kelebihan likuiditas di perbankan juga cenderung ditempatkan pada instrumen berimbal hasil tinggi, seperti deposito, sesuai kondisi high-rate environment saat ini.

Meski demikian, kualitas kredit dinilai masih solid. “Kalau kita lihat, kualitas kredit masih terjaga di level sekitar 2,2%. Loan at risk juga cenderung menurun, relatif stabil di kisaran 9,5%,” jelas David.

David tetap optimistis permintaan kredit akan meningkat pada 2026 seiring sejumlah faktor musiman dan kebijakan fiskal. Aktivitas konsumsi biasanya naik pada momentum tertentu, seperti bulan puasa, Lebaran, dan akhir tahun, sehingga mendorong permintaan dari pelaku usaha.

Selain itu, berbagai program pemerintah yang sebelumnya terhambat kondisi geopolitik dan tensi perang dagang diperkirakan mulai berjalan lebih efektif tahun depan.

“Banyak pengusaha pasti akan mempersiapkan usahanya untuk mengantisipasi peningkatan permintaan. Jadi kita berharap sampai kuartal I ini masih ada pengaruh positif, apalagi kita melihat realisasi belanja pemerintah sudah mulai kick in ke sistem perekonomian secara keseluruhan,” pungkas David.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Begini Cara 3 Kementerian Kerja Sama Hilangkan Kemiskinan Ekstrem

Begini Cara 3 Kementerian Kerja Sama Hilangkan Kemiskinan Ekstrem

NASIONAL
BI Catat Kredit Perbankan Alami Kenaikan Tipis

BI Catat Kredit Perbankan Alami Kenaikan Tipis

EKONOMI
Askrindo Jamin KUR Rp 114 Triliun ke 2 Juta Debitur UMKM

Askrindo Jamin KUR Rp 114 Triliun ke 2 Juta Debitur UMKM

EKONOMI
OJK Catat Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh Nyaris 2 Digit

OJK Catat Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh Nyaris 2 Digit

EKONOMI
Realisasi Program Prioritas Dorong Kredit Tumbuh 9,96%

Realisasi Program Prioritas Dorong Kredit Tumbuh 9,96%

EKONOMI
OJK Yakin Pertumbuhan Kredit Perbankan Tembus 2 Digit pada 2026

OJK Yakin Pertumbuhan Kredit Perbankan Tembus 2 Digit pada 2026

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon