ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Harga Emas dan Tarif Listrik Jadi Penyebab Kenaikan Inflasi Januari

Senin, 2 Februari 2026 | 14:43 WIB
AS
MK
Penulis: Addin Anugrah Siwi | Editor: MBK
Kenaikan Harga Emas.
Kenaikan Harga Emas. (ICDX/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 mencapai 3,55% (year on year/yoy), melampaui target pemerintah pada kisaran 2,5% plus minus 1%.

Kenaikan ini terutama dipengaruhi efek pembanding rendah (low base effect) akibat kebijakan diskon tarif listrik pada awal tahun lalu.

“Inflasi Januari 2026 secara year on year 3,55%. Lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Januari 2025 sebesar 0,76%,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Gedung BPS, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan inflasi terjadi karena pada Januari–Februari 2025 pemerintah menerapkan diskon tarif listrik sebesar 50% yang menekan Indeks Harga Konsumen (IHK). “Penurunan IHK tersebut menyebabkan level harga pada Januari–Februari 2025 berada di bawah tren normal. Ketika dibandingkan dengan Januari 2026, inflasinya tampak melonjak,” jelas Ateng.

ADVERTISEMENT

Kontribusi utama inflasi tahunan datang dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 11,93% dengan andil inflasi sebesar 1,72%. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat inflasi 15,22% (andil 1%), serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,54% (andil 0,46%).

Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat sebesar 2,45% secara tahunan, disumbang naiknya harga emas perhiasan, sewa rumah, biaya pendidikan tinggi, dan harga mobil. Komponen harga yang diatur pemerintah naik 9,71% secara tahunan, dipicu tarif listrik, air minum PDAM, serta rokok jenis SKM dan SKT.

Komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 1,14%, terutama akibat kenaikan harga beras, daging ayam ras, dan bawang merah.

Sementara itu, secara bulanan (month to month), BPS mencatat deflasi sebesar 0,15% pada Januari 2026. Komponen harga bergejolak menyumbang deflasi terbesar sebesar 1,96%, didorong panen hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.

“Pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15%. Ini berbeda dengan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi,” kata Ateng. Komponen harga diatur pemerintah juga mencatat deflasi 0,32%, disebabkan penurunan harga BBM nonsubsidi, tarif angkutan udara, dan antarkota. Sementara inflasi inti bulanan tercatat 0,37%.

BPS mencatat setidaknya lima faktor yang memengaruhi pergerakan inflasi Januari 2026:

  1. Kenaikan harga emas internasional ke level tertinggi.
  2. Musim panen hortikultura yang meningkatkan pasokan.
  3. Kebijakan cukai hasil tembakau dan harga jual eceran rokok tidak naik.
  4. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina.
  5. Tarif listrik kuartal I 2026 tetap setelah diskon besar pada awal 2025.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

LPEM UI Prediksi BI Rate Ditahan 5,5 Persen pada RDG Juni 2026

LPEM UI Prediksi BI Rate Ditahan 5,5 Persen pada RDG Juni 2026

EKONOMI
Pertamax Naik 32 Persen, DPR Janji Kawal Daya Beli Masyarakat

Pertamax Naik 32 Persen, DPR Janji Kawal Daya Beli Masyarakat

NASIONAL
Purbaya Yakin Kenaikan Harga Pertamax Tak Picu Inflasi

Purbaya Yakin Kenaikan Harga Pertamax Tak Picu Inflasi

EKONOMI
Inflasi Mei 2026 Capai 3,08 Persen secara Tahunan

Inflasi Mei 2026 Capai 3,08 Persen secara Tahunan

EKONOMI
BI Pastikan Kenaikan Suku Bunga Tetap Jaga Pertumbuhan Ekonomi

BI Pastikan Kenaikan Suku Bunga Tetap Jaga Pertumbuhan Ekonomi

EKONOMI
Rupiah Anjlok, Pemerintah Tegaskan Ekonomi RI 2026 Tak seperti 1998

Rupiah Anjlok, Pemerintah Tegaskan Ekonomi RI 2026 Tak seperti 1998

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon