Rencana Danantara Jadi Standby Buyer Pasar Saham Bisa Jadi Bumerang
Rabu, 11 Februari 2026 | 16:24 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Rencana penyiapan Danantara sebagai pembeli siaga (standby buyer) di pasar saham menuai sorotan dari sejumlah ekonom. Langkah tersebut dinilai berpotensi menimbulkan sinyal negatif bagi investor serta memunculkan konflik kepentingan di pasar modal.
Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai pemerintah perlu fokus memulihkan kredibilitas kebijakan melalui reformasi struktural, bukan dengan langkah-langkah yang justru berisiko menimbulkan persepsi keliru di pasar.
“Nah sekarang kita perlu meyakinkan kembali bahwa kita itu bisa pulih dan sehat dengan melakukan reform-reform yang diperlukan. Sejauh ini kita belum melihat ada langkah-langkah ke sana,” ujar Riefky dalam acara The Forum B-Universe di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dia mencontohkan respons pemerintah saat mendapat penilaian dari MSCI, di mana salah satu langkah cepat yang disiapkan adalah Danantara sebagai standby buyer. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi kontraproduktif terhadap upaya pemulihan kepercayaan pasar.
“Kalau Danantara disiapkan sebagai standby buyer, ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar tidak mau menjadi pembeli di sini. Itu justru mengirim sinyal negatif lainnya,” tutur Riefky.
Riefky mengingatkan Indonesia memiliki rekam jejak panjang sebagai negara dengan disiplin fiskal yang relatif baik. Dalam 10–20 tahun terakhir, peringkat kredit Indonesia cenderung stabil, bahkan beberapa kali mengalami kenaikan dan hampir tidak pernah diturunkan.
Karena itu, pemerintah dinilai harus serius menanggapi penilaian dari lembaga pemeringkat seperti MSCI dan Moody’s. Upaya membangun kredibilitas yang dilakukan selama dua dekade bisa rusak hanya dalam beberapa bulan atau bahkan hari apabila tidak ditangani secara serius.
Ia juga mengingatkan bahwa indikasi penurunan rating atau outlook dari lembaga internasional kerap menjadi tanda awal tekanan finansial suatu negara. Selain itu, risiko sudden stop of capital flows atau pembalikan arus modal asing secara tiba-tiba juga perlu diwaspadai. “Kita harap pemerintah betul-betul menghadapi isunya dan tidak lagi denial,” ujarnya.
Sementara itu, Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Dwiwulan menilai rencana Danantara menjadi standby buyer juga berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Menurutnya, terdapat setidaknya tiga faktor yang perlu dicermati secara serius oleh otoritas agar tidak menimbulkan persoalan tata kelola di kemudian hari.
Pertama, Danantara disebut sebagai pemilik BUMN sekaligus berpotensi memiliki peran di bursa, yang dapat menciptakan irisan kepentingan dalam perdagangan saham BUMN.
Kedua, Danantara merupakan entitas yang dibentuk dan didorong pemerintah. Atas dasar itu, perannya di pasar perlu dijaga agar tidak memunculkan persepsi adanya intervensi berlebihan dalam mekanisme pasar.
Ketiga, sebagai entitas berorientasi profit, Danantara dinilai memiliki karakter berbeda dengan bursa yang berfungsi melayani kepentingan publik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




