Akses Kredit Stagnan, AFTECH Usul Kolaborasi Bank dan Pindar
Sabtu, 14 Februari 2026 | 19:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Akses kredit di Indonesia masih cenderung stagnan meski kebutuhan pembiayaan masyarakat dan pelaku usaha terus meningkat. Melihat kondisi tersebut, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengusulkan penguatan kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) sebagai solusi memperluas pembiayaan formal.
Bersama Mandala Consulting, AFTECH meluncurkan white paper bertajuk “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”. Dokumen ini mengulas kesenjangan pembiayaan formal di Indonesia sekaligus memetakan potensi sinergi antara bank dan fintech peer-to-peer (P2P) lending untuk menjangkau segmen underbanked, termasuk UMKM.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menilai stagnasi akses kredit mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan konvensional dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat. “Perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal saja. Kolaborasi bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci untuk menjangkau segmen yang belum terlayani optimal, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian,” ujarnya dalam peluncuran di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar melonjak signifikan, dari Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024. Peningkatan ini mencerminkan kepercayaan yang makin kuat terhadap model bisnis fintech lending, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih terstruktur.
Dari sisi makro, data World Bank mencatat rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 36,4% pada 2024–2025 dan cenderung stagnan. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas di kawasan yang mencapai 74,46%. Selain itu, sekitar 48% penduduk dewasa Indonesia masih tergolong underbanked, sementara inklusi keuangan perbankan baru menyentuh sekitar 70% pada 2025.
CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, menilai persoalan bukan semata kemampuan ekonomi masyarakat, melainkan keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional. Menurutnya, penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai 75% membuka peluang besar bagi model pembiayaan digital. “Tantangan utama ada pada aspek kepercayaan, data, dan dokumentasi. Di sinilah pindar memiliki fleksibilitas operasional dan kecepatan untuk menjangkau mereka,” katanya.
Studi juga menunjukkan pindar menjadi kanal pembiayaan dengan pertumbuhan tercepat, sekitar 34% per tahun pada periode 2019–2024. Bahkan, porsi pendanaan industri pindar dari perbankan meningkat dari 15% atau Rp1,5 triliun pada Januari 2021 menjadi 71% atau Rp46,6 triliun pada Januari 2025. Temuan Cambridge Center for Alternative Finance (2022) memperlihatkan lebih dari 50% peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan, dan lebih dari 35% kemudian mengajukan pinjaman bank setelah menyelesaikan kewajibannya di platform digital.
Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menegaskan kesiapan tata kelola menjadi kunci keberhasilan kolaborasi. Menurutnya, banyak platform pindar yang telah memenuhi standar kepatuhan setara perbankan dan bahkan dipercaya bank internasional di Indonesia.
AFTECH meyakini sinergi bank dan pindar dapat menjadi jembatan untuk menutup kesenjangan pembiayaan, terutama bagi UMKM dan masyarakat produktif yang belum memiliki rekam jejak kredit formal. Dengan penguatan tata kelola dan manajemen risiko, kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif sekaligus mengatasi stagnasi akses kredit secara berkelanjutan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




