BI Terus Kaji Penurunan Bunga Kredit
Jumat, 3 Februari 2012 | 17:23 WIB
BI akan mencari sejumlah komponen biaya pembentuk suku bunga kredit yang dapat ditetapkan benchmark.
Bank Indonesia (BI) terus mengkaji langkah mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan.
Hingga kini, bank sentral masih menganalisis perhitungan bank untuk menurunkan bunga kredit dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).
BI akan mencari sejumlah komponen biaya pembentuk suku bunga kredit yang dapat ditetapkan benchmark atau acuannya.
"Soal benchmark terkait suku bunga dalam RBB masih dibahas, yang penting adalah optimisme kita untuk dapat meningkatkan efisiensi," kata Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan (DPNP) BI Suhaedi ketika ditemui di kompleks perkantoran BI, Jakarta, hari ini.
Menurut Suhaedi, penerapan benchmark tidak sulit meski perlu diskusi secara intensif dengan perbankan. Sebelum benchmark diterapkan, kondisi perbankan harus stabil terlebih dahulu. Saat ini, kata dia, kondisi perbankan sudah cukup stabil dari berbagai aspek.
"kajian ini akan masuk Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk dibahas terlebih dahulu. Tapi memang bank sudah merencanakan penurunan suku bunga dalam RBB mereka," papar Suhaedi.
Pada kesempatan yang sama, Direktur DPNP BI Wimboh Santoso mengatakan, suku bunga dasar kredit (SBDK) tidak dapat disamaratakan pada semua bank. Namun, penyetaraan didasarkan pada peer group (kelompok) masing-masing. "Tapi ada SBDK bank-bank besar yang bisa kita lihat secara umum," jelas Wimboh.
Lebih lanjut, dia mengatakan, BI belum selesai melakukan verifikasi RBB.
Dia juga mengungkapkan, pencantuman target penurunan suku bunga dalam RBB bukan barang baru. "Itu sudah ada sejak dulu, tapi memang baru sejak saat ini, BI menegosiasikan agar hal itu menjadi perhatian secara khusus," tutur Wimboh.
Seperti diketahui, perbankan nasional diminta mencantumkan rencana penurunan suku bunga secara khusus dalam RBB 2012. Tidak hanya itu, setiap bank mempunyai asumsi pertumbuhan ekonomi, serta pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK), pendapatan, dan biaya.
"Saat ini, suku bunga menjadi concern kami dan kami lihat berapa pergerakannya setiap bank itu. Tidak mesti setiap bank sama," ungkap Wimboh.
Menurut Wimboh, manfaat dari turunnya bunga kredit adalah dapat memicu permintaan kredit perbankan.
Bank Indonesia (BI) terus mengkaji langkah mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan.
Hingga kini, bank sentral masih menganalisis perhitungan bank untuk menurunkan bunga kredit dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).
BI akan mencari sejumlah komponen biaya pembentuk suku bunga kredit yang dapat ditetapkan benchmark atau acuannya.
"Soal benchmark terkait suku bunga dalam RBB masih dibahas, yang penting adalah optimisme kita untuk dapat meningkatkan efisiensi," kata Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan (DPNP) BI Suhaedi ketika ditemui di kompleks perkantoran BI, Jakarta, hari ini.
Menurut Suhaedi, penerapan benchmark tidak sulit meski perlu diskusi secara intensif dengan perbankan. Sebelum benchmark diterapkan, kondisi perbankan harus stabil terlebih dahulu. Saat ini, kata dia, kondisi perbankan sudah cukup stabil dari berbagai aspek.
"kajian ini akan masuk Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk dibahas terlebih dahulu. Tapi memang bank sudah merencanakan penurunan suku bunga dalam RBB mereka," papar Suhaedi.
Pada kesempatan yang sama, Direktur DPNP BI Wimboh Santoso mengatakan, suku bunga dasar kredit (SBDK) tidak dapat disamaratakan pada semua bank. Namun, penyetaraan didasarkan pada peer group (kelompok) masing-masing. "Tapi ada SBDK bank-bank besar yang bisa kita lihat secara umum," jelas Wimboh.
Lebih lanjut, dia mengatakan, BI belum selesai melakukan verifikasi RBB.
Dia juga mengungkapkan, pencantuman target penurunan suku bunga dalam RBB bukan barang baru. "Itu sudah ada sejak dulu, tapi memang baru sejak saat ini, BI menegosiasikan agar hal itu menjadi perhatian secara khusus," tutur Wimboh.
Seperti diketahui, perbankan nasional diminta mencantumkan rencana penurunan suku bunga secara khusus dalam RBB 2012. Tidak hanya itu, setiap bank mempunyai asumsi pertumbuhan ekonomi, serta pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK), pendapatan, dan biaya.
"Saat ini, suku bunga menjadi concern kami dan kami lihat berapa pergerakannya setiap bank itu. Tidak mesti setiap bank sama," ungkap Wimboh.
Menurut Wimboh, manfaat dari turunnya bunga kredit adalah dapat memicu permintaan kredit perbankan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




