Harga Emas Dunia Bisa Tembus US$ 6.000 Imbas Konflik Iran-Israel
Minggu, 1 Maret 2026 | 16:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan apabila konflik Iran vs Israel-Amerika Serikat (AS) berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, dalam skenario tersebut, reli emas dunia dapat berlanjut hingga menyentuh area US$ 6.000 per ons troi.
‘’Apabila konflik berkepanjangan, emas bisa dengan cepat ke level US$ 6000 per ons troi,’’ ujarnya saat dihubungi Beritasatu.com, Minggu (1/3/2026).
Menurut Lukman, kenaikan harga emas saat ini didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Lonjakan harga dalam setahun terakhir juga tidak terlepas dari antisipasi pelaku pasar terhadap berbagai kebijakan ekstrem Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa secara jangka pendek kenaikan harga emas sebenarnya sudah mengantisipasi perkembangan konflik terbaru. Karena itu, investor perlu berhati-hati apabila masih mengharapkan lonjakan yang terlalu besar dalam waktu dekat.
Lukman memprediksi, dalam kondisi normal tanpa eskalasi lanjutan, harga emas masih memiliki ruang kenaikan menuju kisaran US$ 5.300–US$ 5.500 per ons troi. Dengan asumsi harga emas spot internasional berada di level US$ 5.500, harga emas Antam diperkirakan berkisar Rp 3,15 juta per gram.
Pada Sabtu (28/2/2026), harga emas dunia ditutup pada level US$ 5.280 per ons troi. Sementara itu, harga emas Antam tercatat mencapai Rp 3,085 juta per gram.
Sementara itu, apabila konflik meluas dan berlangsung dalam periode yang lebih panjang, harga emas dapat bergerak cepat menuju US$ 6.000 per ons troi. Walau demikian, Lukman memandang Bank Indonesia (BI) tentu akan melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
‘’BI akan intervensi sehingga mungkin dampak dari nilai tukar tidak akan besar,’’ katanya.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga berdampak pada harga minyak. Lukman menilai kekhawatiran utama pasar bukan semata pada sisi produksi yang relatif bisa diimbangi oleh negara-negara OPEC+, melainkan potensi gangguan jalur logistik sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari yang melewati kawasan konflik.
Untuk jangka pendek, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan dapat mencapai atau bahkan melampaui US$ 70 per barel. Apabila konflik berkepanjangan, harga WTI berpeluang naik ke kisaran US$ 90–US$ 100 per barel.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
MK: Kerugian Negara Ditentukan BPK!
Pilot Hilang, AS Hadapi Tantangan Berat Pencarian
Lagi-lagi AS-Israel Serang Fasilitas Nuklir Iran
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Salah Bakal Hengkang dari Liverpool, Slot: Jangan Salahkan Saya!




