OJK: Modal Bank Kokoh, Kredit Januari 2026 Naik
Selasa, 3 Maret 2026 | 17:52 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan ketahanan industri perbankan nasional tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal ini tecermin dari permodalan yang kuat, likuiditas memadai, serta pertumbuhan kredit yang terus berlanjut hingga Januari 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan tercatat 25,87% pada Januari 2026, stabil dibandingkan Desember 2025.
"Ini tentu menjadi buffer (penyangga) mitigasi risiko yang kuat di tengah kondisi ketidakpastian global dewasa ini," ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Selasa (3/3/2026).
Dari sisi likuiditas, industri perbankan juga menunjukkan kondisi yang terjaga. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 121,23%, sementara alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54%.
Angka tersebut jauh melampaui threshold masing-masing 50% dan 10%. Selain itu, liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 197,92%, menandakan kapasitas bank yang sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan positif. Kredit per Januari 2026 tumbuh 9,96% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 8.557 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,63% yoy.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,38% yoy. Disusul kredit konsumsi 6,58% yoy dan kredit modal kerja 4,13% yoy.
Dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh 16,07% yoy, sementara kredit bank BUMN meningkat 13,43% yoy.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan 13,48% yoy menjadi Rp 10.076 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh giro yang meningkat 19,75% yoy, deposito 12,61% yoy, serta tabungan 8,27% yoy.
Meski terdapat kenaikan tipis pada rasio kredit bermasalah, kualitas aset perbankan tetap terkendali. NPL gross tercatat 2,14% pada Januari 2026, naik dari 2,05% pada Desember 2025. Sementara NPL net berada di level 0,82% dari sebelumnya 0,79%.
Loan at risk (LAR) tercatat 9,01%, sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya 8,77%.
Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) berada di level 2,49%, sedikit turun dari 2,53% pada Desember 2025.
Dengan permodalan dan likuiditas yang kuat, OJK menilai industri perbankan memiliki ruang cukup untuk menyerap potensi risiko sekaligus tetap mendukung pembiayaan perekonomian nasional.
"Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga," pungkas Dian.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




