ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kisah Sukses Jack Ma (2)

Sabtu, 8 Agustus 2015 | 14:32 WIB
IS
AB
Penulis: Iwan Subarkah | Editor: AB
Presiden Direktur Alibaba, Jack Ma
Presiden Direktur Alibaba, Jack Ma (Istimewa)

E-commerce alias perdagangan produk dan jasa menggunakan jejaring komputer, seperti internet, mendunia dan semakin menjadi instrumen penting bagi usaha kecil maupun bisnis berskala besar di seluruh dunia. Itu karena e-commerce tidak hanya soal menjual kepada konsumen, tapi juga merangkul, melibatkan, atau mengikutsertakan mereka.

Setelah penjualan e-commerce global menembus US$ 1 triliun (sekitar Rp 13.500 triliun) untuk pertama kalinya pada 2012, sekarang praktik bisnis tersebut berkembang ke m-commerce (e-commerce via perangkat telepon seluler) dan t-commerce (e-commerce via televisi digital).

Pada 2010, Inggris menjadi pasar e-commerce terbesar dunia dari sisi belanja per kapita. Lalu Republik Cheska menjadi negara Eropa yang e-commerce-nya menyumbang paling besar terhadap total pendapatan sektor swasta. Selain itu, 24 persen total penjualan di Cheska dihasilkan via saluran online.

Di antara negara pasar berkembang, eksistensi e-commerce di Tiongkok terus menguat setiap tahun. Pada 2009, tatkala jumlah pengguna internetnya mencapai 384 juta, penjualan dari belanja online di Tiongkok mencapai US$ 36,6 miliar.
Salah satu faktor keberhasilan e-commerce di Tiongkok adalah tumbuh pesatnya kepercayaan para konsumen terhadap metode belanja kekinian tersebut. Para peritel di Tiongkok juga bisa membantu para konsumennya merasa lebih nyaman untuk berbelanja online, dibandingkan langsung ke toko atau mal.

ADVERTISEMENT

Tumbuh di dalam negeri, e-commerce lintas negara juga subur di Tiongkok. Transaksi e-commerce antara Tiongkok dan negara-negara lain melonjak 32 persen menjadi 3,2 triliun yuan (US$ 375,8 miliar) pada 2012 dan menyumbang 9,6 persen terhadap total perdagangan luar negeri Tiongkok pada 2013.

Alibaba, raksasa e-commerce yang didirikan miliarder Jack Ma, pada 2013 memiliki pangsa pasar e-commerce 80 persen di dalam negeri. Hasil riset eMarketer yang dirilis Selasa (4/8) memprediksi penjualan e-commerce mobile tahun depan akan menyumbang 10,9 persen terhadap total penjualan ritel di Tiongkok dan 55,5 persen dari total belanja ritel online. Faktor pendorongnya adalah pertumbuhan pesat sektor tersebut yang mencapai 51,42 persen hingga mencapai rekor tertinggi US$ 505,74 miliar, naik dari estimasi US$ 333,99 miliar tahun ini.

Lompatan tersebut bakal memperlebar jarak antara Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS) dalam hal total transaksi ritel via ponsel pintar, tablet, dan perangkat bergerak lainnya. Penjualan e-commerce mobile di AS diproyeksikan mencapai US$ 74,93 miliar tahun ini dan transaksi e-commerce mobile di AS diprediksi hanya mencapai 1,9 persen dari total penjualan ritelnya.

Lebih Digital
Monica Peart, analis proyeksi eMarketer, mengatakan angka-angka itu mengindikasikan bahwa penjualan ritel di Tiongkok berlangsung lebih digital, dan secara spefisik lagi lebih bersifat mobile dibandingkan di AS.

"Akses internet oleh mayoritas pengguna internet di Tiongkok adalah via ponsel. Untuk 2015 persentasenya mencapai 87,4 persen, dibandingkan 74,6 persen oleh para pengguna internet AS," tutur Peart.

Dia menambahkan, banyak sekali pengguna internet mobile di Tiongkok yang mendorong aktivitas e-commerce ritel berpindah ke perangkat bergerak. Hal tersebut belum pernah terjadi di AS karena komputer desktop masih sangat dominan digunakan untuk aktivitas belanja online.

Pusat Informasi Jaringan Internet Tiongkok (CINIC) bulan lalu melaporkan, total jumlah pengguna internet yang mengaksesnya via perangkat bergerak mencapai 594 juta per akhir Juni 2015. Jumlah itu meningkat dari 557 juta pada akhir Desember 2014. Per akhir Juni 2015, jumlah pengguna internet Tiongkok mencapai 668 juta atau bertambah 18,9 juta hanya dalam kurang lebih enam bulan, dibandingkan 649 juta pada akhir tahun lalu.

Alibaba Group, penyedia jasa e-commerce terbesar dunia, saat ini menjadi barometer tak resmi bagi banyak analis untuk menentukan seberapa besar pertumbuhan belanja ritel via ponsel di Tiongkok.

Alicia Yap, kepala riset internet Barclays untuk Tiongkok, mengungkapkan, total volume kotor merchandise Alibaba via perangkat bergerak pada kuartal pertamanya yang berakhir Juni 2015, diproyeksikan mencapai 363 miliar yuan (US$ 58,36 miliar). Raihan itu akan menunjukkan lonjakan 121 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di segmen ritel online, volume kotor merchandise adalah total nilai transaksi untuk barang yang terjual via pasar e-commerce tertentu selama periode tertentu. Volume tersebut mengestimasikan total volume penjualan mobile di Alibaba, yang pada kuartal pertama tersebut menyumbang 53 persen terhadap total proyeksi volume kotor merchandise di Tiongkok.

Dari sisi segmen pasar, pengguna e-commerce mobile baru di Tiongkok adalah warga perdesaan. Satu generasi yang lampau, peternakan babi adalah salah satu mata pencarian utama di Desa Angin Timur di Provinsi Jiangsu. Di Beishan, warganya kebanyakan menjual serabi yang dibakar dengan tungku tanah liat. Desa Junpu sedikit lebih modern karena produk makanannya diolah menggunakan mesin.

Sekarang, Angin Timur berubah menjadi desa industri furnitur, Beishan menjadi rumah bagi sedikitnya satu bisnis peralatan outdoor bernilai jutaan dolar AS, dan salah satu keberhasilan Junpu adalah dari penjualan denim. Ketiga desa itu dikenal dengan apa yang sekarang disebut sebagai desa-desa Taobao. Sedikitnya 10 persen warga desa ini memiliki penghasilan dari menjual produk secara online. Sebagian besar transaksi penjualan dilakukan via Taobao.com, platform untuk jual-beli online yang dikembangkan oleh Alibaba.

Wujudkan Mimpi
Desa-desa Taobao adalah bagian dari gema e-commerce yang bergaung makin kencang ke seluruh Asia Pasifik dan dimotori Tiongkok. Jutaan pembeli dan penjual baru dari desa-desa yang asalnya tak terkoneksi internet, sekarang menjadi serba-online.

Desa-desa Taobao inilah yang menjadi pendorong lonjakan e-commerce di Tiongkok, dan juga dunia. Alibaba tahun lalu melaporkan sudah ada 211 desa Taobao. Setahun sebelumnya, jumlah desa tersebut baru 20. Desa-desa itu sekarang menampung sekitar 70.000 merchant dan Alibaba aktif berinvestasi untuk mengembangkan platform tersebut. Alibaba memprediksikan pasar perdesaan untuk e-commerce akan mencapai 460 miliar yuan (US$ 74 miliar) pada 2016. Pasar tersebut akan terus berkembang karena populasi warga desa di Tiongkok sangat banyak. Desa-desa Taobao ini akan membantu mewujudkan salah satu mimpi Jack Ma.

Saat berbicara pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Januari 2015, Ma mengatakan visinya adalah melayani dua miliar konsumen dan membantu 10 juta pengusaha kecil di luar Tiongkok untuk menjual produknya lewat internet. Saat ini Alibaba melayani sedikitnya 300 juta orang yang bertransaksi via portal-portalnya. Sepertiga di antaranya mencatat 60 juta transaksi harian dengan 10 juta pengusaha kecil yang sebagian besar berasal dari Tiongkok.

"Saya berpikir bagaimana menjadikan Alibaba itu platform global bagi pengusaha kecil di seluruh dunia. Visi saya adalah membantu pengusaha kecil di Norwegia menjual produknya ke Argentina dan konsumen Argentina bisa membeli produk-produk secara online dari Swiss. Kami bisa membangun sebuah e-WTO," tutur Ma.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon