ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Emas Jadi Aset Berisiko, tetapi Prospek Investasi Masih Cerah

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:00 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Ilustrasi emas batangan dan dolar Amerika Serikat (AS).
Ilustrasi emas batangan dan dolar Amerika Serikat (AS). (ChatGPT)

Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas menunjukkan perilaku tak biasa sepanjang 2026. Alih-alih menguat saat ketegangan geopolitik meningkat, logam mulia ini justru bergerak seperti aset berisiko dengan penurunan tajam di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Analis komoditas dari HSBC menilai fenomena ini menyimpang dari pola historis. Biasanya, emas menjadi aset lindung nilai (safe haven) saat terjadi konflik dan ketidakpastian ekonomi.

“Pergerakan harga emas sejak konflik Iran pecah justru bertentangan dengan ekspektasi. Secara teori, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi seharusnya mendorong kenaikan harga emas, seperti yang terjadi pada reli besar dua tahun terakhir,” tulis analis HSBC Asset Management, dikutip dari Kitco News, Selasa (31/3/2026).

Namun, kenyataannya, harga emas justru melemah sekitar 15% sepanjang Maret 2026.

ADVERTISEMENT

Menurut HSBC, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas karena membuatnya lebih mahal bagi pembeli di luar AS.

“Dolar AS yang lebih kuat menjadi hambatan bagi emas karena mengurangi minat pembeli global. Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas,” jelas analis tersebut.

Ilustrasi emas - (Beritasatu.com/Herman)
Ilustrasi emas - (Beritasatu.com/Herman)

Meski demikian, mereka mencatat pada 2022 emas sempat mampu bertahan di tengah kondisi serupa, sehingga melemahkan teori lama tentang hubungan antara dolar, suku bunga, dan emas.

HSBC menilai perubahan struktur pasar turut memengaruhi perilaku emas. Kepemilikan emas kini lebih banyak dipegang oleh investor ritel dan pihak dengan leverage tinggi.

“Kepemilikan emas telah bergeser ke investor ritel dan pembeli berbasis leverage, yang cenderung menjual aset saat pasar bergejolak,” tulis analis.

Akibatnya, emas kini bergerak lebih mirip aset berisiko (risk asset), bukan lagi sepenuhnya safe haven seperti sebelumnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon