Belanja Negara Tembus Rp 815 T, Defisit APBN Capai Rp 240 T
Senin, 6 April 2026 | 15:39 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat realisasi belanja negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp 815 triliun. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp 574,9 triliun.
Dengan kondisi tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Defisit terjadi karena realisasi belanja negara pada awal tahun lebih cepat dibandingkan penerimaan. Hingga 31 Maret 2026, belanja negara telah mencapai 21,2% dari pagu APBN, sementara pendapatan baru terealisasi 18,2% dari target tahun ini.
“Ketika ada defisit, tidak perlu kaget karena memang APBN didesain dalam kondisi defisit,” ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).
Secara tahunan, defisit APBN meningkat cukup signifikan. Pada periode yang sama tahun lalu, defisit tercatat Rp 99,8 triliun atau sekitar 0,41% terhadap PDB. Tahun ini, defisit meningkat menjadi Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB.
Purbaya menjelaskan, pelebaran defisit bukan disebabkan melemahnya penerimaan, melainkan strategi pemerintah yang mendorong percepatan belanja sejak awal tahun.
“Jika belanja dilakukan lebih merata sepanjang tahun, maka wajar jika defisit pada triwulan pertama lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Dari sisi pendapatan, realisasi hingga Maret 2026 mencapai Rp 574,9 triliun atau 18,2% dari target APBN. Perinciannya, penerimaan perpajakan sebesar Rp 462,7 triliun atau 17,2% dari target, kepabeanan dan cukai Rp 67,9 triliun atau 20,2%, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 112,1 triliun atau 24,4%.
Di sisi belanja, realisasi Rp 815 triliun setara 21,2% dari total pagu Rp 3.842,7 triliun. Angka ini menunjukkan penyerapan anggaran pada kuartal I berjalan lebih cepat dibandingkan pola tahun sebelumnya.
Purbaya menilai strategi percepatan belanja mulai memberikan dampak positif terhadap perekonomian.
“Strategi ini mulai menunjukkan hasil, dampak ke ekonomi juga lebih baik,” ujarnya.
Ia pun optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 dapat mencapai 5,5% atau bahkan lebih tinggi, seiring dorongan fiskal yang lebih awal.
“Mudah-mudahan bisa tercapai, bahkan kemungkinan besar di kisaran 5,5% atau lebih,” pungkas Purbaya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




