Harga Produk Makanan Olahan Diprediksi Naik 10 Persen
Kamis, 9 Februari 2012 | 01:33 WIB
Kenaikan ini terjadi karena biaya produksi yang harus ditanggung produsen.
Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memprediksi, harga jual produk makanan dan minuman (mamin) olahan bakal naik 5-10% karena kenaikan biaya produksi yang harus ditanggung produsen.
"Harga kemungkinan akan naik 5-10%. Mengantisipasi kenaikan biaya produksi, akibat lonjakan ongkos energi, upah tenaga kerja, dan logistik. Semoga saja, harga komoditas bahan baku tidak ikut naik. Sepertinya akan stabil," kata Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman di sela Jakarta Food Security Summit di Jakarta, Rabu (8/2).
Tahun 2012, menurut Adhi akan menjadi tahun yang berat bagi sektor mamin nasional. Kenaikan ongkos energi dan isu tenaga kerja, menjadi faktor-faktor penekan kinerja industri nasional, termasuk sektor mamin.
"Masalah UMK kemarin benar-benar jadi tantangan. Belum lagi, rencana kebijakan energi sampai saat ini tidak ada kepastian. Padahal, kepastian ini sangat penting bagi dunia usaha di sektor riil. Akibatnya, kami sulit menentukan keputusan," imbuhnya.
Tantangan lainnya, lanjut dia, perlambatan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang menekan ekspor produk mamin.
"Kondisi di kedua negara itu tentu berpengaruh. Karena itu, kami bersama Mendag akan menggelar program promosi ekspor ke pasar-pasar baru di Afrika, Timur Tengah, atau Amerika Latin seperti Brasil," papar Adhi.
Pasar Indonesia yang sekitar 130 juta orang adalah kelas menengah, menjadi satu keunggulan. Pasalnya, terang Adhi, kelas menengah memiliki pola konsumsi yang aktif mengikuti perkembangan.
"Kelas menengah itu dinamis, mau mencoba produk baru. Untuk itu, produsen harus agresif dalam inovasi produknya. Kalau ekonomi makro bisa dijaga, ditambah konsumsi domestik kita yang tinggi, omzet mamin olahan dan setengah jadi tahun ini bisa mencapai Rp 710-715 triliun dari tahun 2011 sekitar Rp 650 triliun," ujar Adhi.
Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memprediksi, harga jual produk makanan dan minuman (mamin) olahan bakal naik 5-10% karena kenaikan biaya produksi yang harus ditanggung produsen.
"Harga kemungkinan akan naik 5-10%. Mengantisipasi kenaikan biaya produksi, akibat lonjakan ongkos energi, upah tenaga kerja, dan logistik. Semoga saja, harga komoditas bahan baku tidak ikut naik. Sepertinya akan stabil," kata Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman di sela Jakarta Food Security Summit di Jakarta, Rabu (8/2).
Tahun 2012, menurut Adhi akan menjadi tahun yang berat bagi sektor mamin nasional. Kenaikan ongkos energi dan isu tenaga kerja, menjadi faktor-faktor penekan kinerja industri nasional, termasuk sektor mamin.
"Masalah UMK kemarin benar-benar jadi tantangan. Belum lagi, rencana kebijakan energi sampai saat ini tidak ada kepastian. Padahal, kepastian ini sangat penting bagi dunia usaha di sektor riil. Akibatnya, kami sulit menentukan keputusan," imbuhnya.
Tantangan lainnya, lanjut dia, perlambatan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang menekan ekspor produk mamin.
"Kondisi di kedua negara itu tentu berpengaruh. Karena itu, kami bersama Mendag akan menggelar program promosi ekspor ke pasar-pasar baru di Afrika, Timur Tengah, atau Amerika Latin seperti Brasil," papar Adhi.
Pasar Indonesia yang sekitar 130 juta orang adalah kelas menengah, menjadi satu keunggulan. Pasalnya, terang Adhi, kelas menengah memiliki pola konsumsi yang aktif mengikuti perkembangan.
"Kelas menengah itu dinamis, mau mencoba produk baru. Untuk itu, produsen harus agresif dalam inovasi produknya. Kalau ekonomi makro bisa dijaga, ditambah konsumsi domestik kita yang tinggi, omzet mamin olahan dan setengah jadi tahun ini bisa mencapai Rp 710-715 triliun dari tahun 2011 sekitar Rp 650 triliun," ujar Adhi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




