BNI Berencana Akuisisi Bank
Senin, 26 Oktober 2015 | 11:23 WIB
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berencana mengakuisisi sebuah bank untuk dijadikan anak usaha, guna memperkuat bisnis di segmen ritel dan konsumer.
Menurut Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, perseroan berniat memasukkan target penambahan anak usaha tersebut ke dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun 2016 yang akan diajukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk itu, BNI tengah menganalisis besaran dana investasi yang kelak harus digelontorkan terkait akusisi itu. Namun, bank pelat merah ini belum menetapkan dari golongan bank umum kelompok usaha (BUKU) berapa yang menjadi target akuisisi.
"Yang akan kita akuisisi bisa dari kelompok BUKU I, II, atau bahkan BUKU III. Tetapi hal itu tentu membutuhkan dana investasi yang lebih besar. Sekarang, perseroan masih menghitung sebelum dimasukkan ke dalam RBB 2016. Yang jelas, kami ingin agar bank tersebut sejalan dengan bisnis BNI, yakni ritel atau bisa konsumer," kata Baiquni kepada Investor Daily di sela acara 'CEO Talk BeritaSatu TV' di Jakarta, pekan lalu.
Selain memiliki anak usaha berbentuk bank, kata Baiquni, ke depan BNI pun berminat mempunyai perusahaan asuransi umum. Saat ini, Dana Pensiun (Dapen) BNI telah memiliki anak usaha asuransi umum. Itulah sebabnya, BNI berencana mengambil alih kepemilikan asuransi umum tersebut dari Dapen BNI. "Namun, sejauh ini BNI baru sebatas melakukan analisis. Jadi, belum ada pembicaraan antara kedua pihak. Kepemilikan kami terhadap anak usaha general insurance mungkin belum urgen dalam waktu dekat. Tapi, inti dari kajian kami adalah mencoba melihat peluang," tegasnya.
Lebih lanjut Baiquni menjelaskan, saat ini kebutuhan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan (LJK) tidak cukup hanya terpenuhi dari bank. Masyarakat kini memerlukan keberadaan industri keuangan nonbank (IKNB).
Dia menegaskan, visi BNI adalah menjadi lembaga keuangan yang unggul dalam layanan dan kinerja. BNI kini sudah memiliki berbagai anak usaha yang antara lain terdiri atas perusahaan sekuritas, asuransi jiwa, bank umum syariah (BUS), dan perusahaan pembiayaan (multifinance). "Menurut saya, kunci sukses perusahaan keuangan adalah terjadinya sinergi antara kami dengan anak-anak perusahaan," kata Baiquni.
Hadapi MEA
Sejalan dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, Baiquni menyatakan, perseroan sudah cukup lama mempersiapkan diri. Persiapan itu meliputi aspek kualitas sumber daya manusia (SDM), jaringan, kualitas pelayanan, hingga jumlah cabang.
"Kalau dari segi jaringan, kami tetap perlu membuka kantor cabang setiap tahun. Di sisi lain, perseroan juga memanfaatkan program Laku Pandai (layanan perbankan tanpa kantor dalam upaya keuangan inklusif) dari OJK," ungkap dia. Dengan Laku Pandai, bank pelat merah ini dapat menjangkau bisnis di wilayah yang belum terjangkau atau belum ada kantor cabang BNI.
Program Laku Pandai menggunakan agen sebagai perpanjangan tangan dari bank. OJK sebelumnya menyatakan, agen Laku Pandai atau branchless banking juga dapat menawarkan asuransi mikro, selain melayani saving basic account kepada nasabah. Menurut Baiquni, sebagai upaya melengkapi kebutuhan nasabah, perseroan sudah memiliki layanan e-banking yang lengkap.
Ekpansi Bisnis
Terkait jaringan di luar negeri, Baiquni menyatakan, BNI telah memiliki jaringan global atau kantor cabang luar negeri (KCLN) di Singapura, Hong Kong, Tokyo, London, New York, dan Seoul (Korea Selatan). Perseroan juga telah membuka jaringan di Osaka yang bertindak sebagai cabang dari KCLN di Tokyo. Sejauh ini, bank yang berdiri sejak 1946 ini mengikuti kemana kantong bisnis Indonesia berada untuk pembukaan KCLN atau ekspansi ke luar negeri.
"Saat ini, kami ada penjajakan terkait Malaysia, kendati sekarang perseroan masih mau fokus terhadap bisnis di Seoul, lalu ke Myanmar. Namun memang, kalau kami menjadi salah satu QAB (Qualifield ASEAN Bank), perseroan bisa diterapkan sebagai bank lokal di Malaysia," ungkap dia.
Terkait ekspansi ke luar negeri, sebelumnya Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, ke depan negara-negara seperti Vietnam, Kamboja, Myanmar, dan Laos memiliki potensi yang besar. Untuk itu, OJK mengimbau agar perbankan Indonesia mulai menggarap bisnis di kawasan itu agar tidak keduluan bank dari negara lain.
"Dari awal, kami sudah mendorong bank agar jangan hanya melirik negara yang maju atau sudah besar. Di Vietnam ada banyak usaha kita (Indonesia) di sana, tetapi belum ada bank kita yang hadir di negara itu," ujar dia.
Laba BNI
Sementara itu, pada kuartal III-lalu, BNI membukukan laba bersih Rp 6 triliun. Terjadi sedikit penurunan dibanding periode sama pada 2014 karena perseroan menaikkan coverage ratio terhadap rasio kredit bermasalah (NPL) menjadi 138,8 persen pada kuartal II-2015. Sedangkan pada kuartal III, penyisihan pencadangan BNI menjadi Rp 6,4 triliun, naik 93 persen secara year on year (yoy) dan coverage ratio menjadi 139,6 persen atau level tertinggi yang pernah dicapai BNI.
"Saat ini, kami sudah cukup puas dengan besaran coverage ratio. Pada akhir 2015, kemungkinan coverage ratio masih akan ada di dalam posisi yang sama. Dalam jangka panjang atau 2-3 tahun kami akan tingkatkan coverage ratio kami menjadi 150 persen," ungkap Baiquni.
Baiquni memprediksi, sampai akhir tahun net interest margin (NIM) BNI dapat terjaga di kisaran 6,2-6,5 persen. Sebagai strategi menjaga biaya dana (cost of fund), perseroan akan mendorong pertumbuhan simpanan dalam bentuk payroll atau pembayaran gaji. Untuk itu, ia menargetkan porsi dana murah (current account and savings account/CASA) BNI dapat dijaga di atas 60 persen pada akhir 2015. "Sebelumnya kami tidak fokus di institusi, tapi sekarang mencoba fokus di sana, terutama pada giro," ungkap Baiquni.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




