Perkuat Permodalan, BNI Pilih Revaluasi Aset
Senin, 9 November 2015 | 20:39 WIB
Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menyatakan perseroan memutuskan memilih opsi revaluasi aset untuk memperkuat permodalan. Rencana tersebut diproyeksikan bank pelat merah ini dapat terealisasi sebelum akhir Desember 2015.
Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni, mengatakan, saat ini perseroan belum mengetahui potensi tambahan aktiva tetap maupun peningkatan capital adequacy ratio (CAR) yang dapat diraih melalui revaluasi aset. Kendati demikian, kata Baiquni, pihaknya tengah memproses evaluasi menggunakan jasa kantor jasa penilai publik (KJPP). Adapun, pada kuartal III-2015 total rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) atau CAR BNI berada di level 17,4 persen, naik dari posisi 16,2 persen pada periode sama 2014.
"Kami menyadari, manfaat yang akan diperoleh perseroan (dari revaluasi aset) cukup untuk membantu BNI meningkatkan posisi CAR. Untuk itu, kami memprediksi dapat merampungkan revaluasi sebelum akhir tahun. Pasalnya itu, perseroan berupaya mengejar insentif keringanan pajak dari pemerintah yang tahun ini," ujar dia disela konferensi pers rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, Senin (9/11).
Berdasarkan Pasal I dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 191/PMK.010/2015 Tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan yang Diajukan Pada Tahun 2015 dan Tahun 2016 dinyatakan, pemerintah memberikan perlakuan khusus berupa pajak penghasilan sebesar 3 persen untuk permohonan revaluasi aset sampai 31 Desember 2015. Kemudian, besaran pajak itu meningkat menjadi 4 persen pada periode 1 Januari-30 Juni 2016, dan menanjak ke level 6% untuk permohonan yang diajukan sejak 1 Juli-Desember 2016.
Selain rencana memperkuat permodalan, Baiquni juga mengungkapkan, perseroan berencana mengusulkan pertumbuhan kredit kisaran 15-17 persen dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun 2016. Proyeksi target tersebut tidak jauh berbeda dengan paparan prediksi target yang sebelumnya diungkapkan BNI dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Saat itu, Baiquni mengungkapkan, bank pelat merah ini memproyeksi target pertumbuhan kredit kisaran 16-18 persen secara year on year (yoy) sepanjang 2016.
Adapun, Baiquni memprediksi, segmen korporasi dan badan usaha milik negara (BUMN) masih tetap menjadi kontributor utama total kredit BNI hingga akhir paruh kedua tahun 2015.
"Pada kuartal III lalu yang tertinggi adalah kredit BUMN. Lalu setelah itu diikuti kredit UKM (usaha kecil menengah). Sampai akhir tahun 2015, kami memprediksi kurang lebih komposisi masih tetap sama ya, karena tinggal dua bulan lagi," tutur dia.
Berdasarkan corporate presentation BNI, total kredit perseroan meningkat sekitar 14,6 persen (yoy) dari Rp 267,94 triliun menjadi Rp 307,12 triliun pada akhir September lalu. Total kredit tersebut terdiri dari kredit segmen business banking sebesar Rp 219,97 triliun dan konsumer Rp 54,85 triliun. Adapun, kredit korporasi mendominasi sebesar 26,1 persen dari total kredit segmen business banking emiten berkode BBNI ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




