Pembiayaan APBN 2016
Pemerintah Rancang Penerbitan "Global Bond" Rp 10 Miliar
Jumat, 20 November 2015 | 08:20 WIB
JAKARTA – Pemerintah merencanakan penerbitan surat berharga negara valuta asing (SBN valas) atau global bond sekitar US$ 10 miliar untuk menutup pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016. Nilai tersebut setara dengan 20-30% total Rp 510 triliun SBN bruto yang hendak diterbitkan tahun depan.
Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Scenaider CH Siahaan mengatakan, dari total SBN valas tersebut, sekitar US$ 4 miliar di antaranya berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS). Untuk keperluan seperti ini, pemerintah telah bermitra dengan beberapa bookrunner seperti Bank of America Merrill Lynch, CIMB, Citigroup, dan HSBC.
"Semakin banyak semakin bagus karena lebih efisien untuk kami. Rencana global bond tahun depan kira-kira US$ 10 miliar, setara 20-30% SBN bruto," kata dia kepada Investor Daily, Kamis (19/11).
Ia menambahkan, target pembiayaan SBN bruto sebesar Rp 510 triliun dalam APBN 2016 itu masih memperhitungkan alokasi anggaran untuk penyertaan modal negara (PMN) ke BUMN yang dibekukan karena belum mendapatkan persetujuan DPR.
Untuk itu, penerbitan SBN valas akan diupayakan pada akhir 2015, meski kemungkinan bergeser cukup besar karena mempertimbangkan dampak penyesuaian suku bunga The Fed yang diperkrakan dilakukan pada Desember. Ini juga akan melengkapi rencana pinjaman luar negeri Rp 75 triliun, pinjaman program senilai Rp 36,8 triliun, dan utang proyek senilai Rp 38,3 triliun.
"Kalau jendelanya terbuka pada akhir tahun ya kami masuk. Tapi, kalau pengaruh (kenaikan suku bunga) The Fed menutup itu, ya kami pending untuk global bond," tutur dia.
Menurut Scenaider, global bond masih akan didominasi denominasi yen, euro, dolar AS, maupun sukuk global. Namun, pihaknya juga melakukan kajian penerbitan yuan bond terkait potensi maupun risikonya.
Scenaider menegaskan, rencana pinjaman untuk tahun ini masih sekitar US$ 5 miliar, meskipun pemerintah tengah meng-utak-atik opsi untuk membiayai pelebaran defisit anggaran yang diperkirakan mencapai 2,59% produk domestik (PDB). Pinjaman itu diupayakan baik melalui penerbitan SBN maupun pinjaman valas.
"Kalau tahun ini kami carikan kirakira US$ 5 miliar lewat SBN dan pinjaman valas. Untuk SBN valas telah diterbitkan US$ 8,2 miliar terdiri atas global bond senilai US$ 4 miliar, sukuk global senilai US$ 2 miliar, samurai bond sebesar US$ 1 miliar, dan euro bond sebanyak € 1,5 miliar," kata dia merinci.
Scenaider menambahkan, realisasi penerbitan SBN per Kamis (19/11) tercatat Rp 468,4 triliun atau 97,36% dari SBN bruto Rp 481,1 triliun (asumsi defisit 2,59% dari PDB).
Front Loading
Secara terpisah, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, pemerintah masih melihat kondisi pasar dan mencari waktu tepat untuk menerbitkan surat utang. Jika tahun ini pemerintah menerapkan front loading (mempercepat penerbitan SBN di awal tahun), tahun depan belum tentu.
"Kami tidak bicara front loading atau apa. Yang paling penting di pembiayaan adalah the right moment. Kadang-kadang window-nya cuma tiga hari, kita masuk kalo memang kondisinya seperti itu. Kita tidak mau pembiayaan kepepet atau asal masuk pasar," kata Bambang. Sejak awal tahun ini, pemerintah sudah mempercepat penerbitan surat utang asing.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




