Sumsel Fokus Genjot Tiga Komoditas Ekspor
Minggu, 6 Desember 2015 | 15:57 WIB
Palembang- Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tetap fokus menggenjot tiga komoditas ekspor untuk mendukung rencana Kementerian Perdagangan yang berkeinginan menaikkan capaian hingga tiga kali lipat dalam lima tahun.
"Sumsel tetap fokus pada tiga komoditas ekspor unggulan yakni sawit, karet, dan batu bara meskipun saat ini masih terjadi pelemahan ekonomi global," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel Permana di Palembang, Minggu (6/12).
Ia mengemukakan potensi untuk meningkatkan ekspor karet, sawit, dan batu bara sejatinya masih terbuka meskipun tidak dapat dipungkiri terjadi penurunan permintaan akibat pelemahan ekonomi global.
Pemerintah daerah berencana membuka pasar baru yang masih menjanjikan selain Tiongkok dan India. Kedua negara ini sementara menjadi pembeli utama produk ekspor asal Sumsel. "Akan dicarikan pasar baru, seperti di Timur Tengah dan Eropa," kata dia.
Ia menginformasikan, Sumsel masuk dalam daerah yang surplus dalam perdagangan luar negeri karena produk ekspor lebih banyak dibandingkan produk impor.
Secara nasional, Sumsel berada di urutan ke-10 dalam kontribusi di sektor ekspor non migas dengan mencatat angka 2.130,6 juta dolar Amerika Serikat pada 2014.
Dari volume ekspor, komoditas karet menduduki peringkat pertama. Namun sejak 2013, mulai terjadi tren penurunan penyerapan pasar luar negeri sehingga pada periode Januari-April 2015, ekspor karet hanya US$ 481,25 juta atau turun hampir separuh dari nilai periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$ 38,69 juta. Sementara, berdasarkan data periode Januari-Juli 2014, komoditas karet menjadi penyumbang terbesar dengan mencatat US$ 1,231 miliar disusul batu bara dengan US$ 375 juta kemudian produk kelapa sawit dengan US$ 54 juta.
Sementara pada 2013, ekspor karet membukukan US$ 2,7 miliar, batu bara US$ 579 juta dan dan produk kelapa sawit US$ 226 juta. Capaian 2013 itu, relatif menyamai ekspor 2012 yakni karet US$ 2,968 miliar, batu bara US$ 582 juta dolar, dan produk kelapa sawit US$ 585 juta.
"Permintaan memang masih lemah, tapi asumsi ekonomi makro menunjukkan bakal ada perbaikan. Pemerintah optimistis bisa mencapai peningkatan pada tahun mendatang," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




