Ekonom Mandiri Proyeksikan Pertumbuhan 2016 di Kisaran 5%
Senin, 21 Desember 2015 | 23:15 WIB
Jakarta –Ekonom Bank Mandiri Andri Asmoro melihat prospek pertumbuhan ekonomi tahun depan masih di kisaran 5% lantaran beberapa tantangan domestik.
Menurutnya, ada empat tantangan ekonomi tahun depan yakni pelemahan harga ekspor berbasis komoditas, masih tingginya impor, tantangan fiskal berupa shortfall pajak dan belanja yang tidak terserap, serta minimnya dorongan industrialisasi. "Tahun depan kami perkirakan masih di bawah proyeksi pemerintah 5,3% lantaran beberapa tantangan tadi," kata dia di Jakarta, Senin (21/12).
Tahun depan, desentralisasi fiskal menjadi tantangan sendiri mengingat transfer ke daerah tahun depan naik 10,4% menjadi Rp 700,4 triliun. Padahal, tren menunjukan realisasi belanja daerah belum optimal, terbukti dengan dana idle (nganggur) pemda di BPD yang terus naik dari Rp 39,1 triliun per 2014 menjadi Rp 67 triliun per September lalu.
"Tahun ini ruang defisit pemerintah diperlebar menjadi 2,9% namun perlu diperhatikan juga tantangan tahun depan, bagaimana kalau belanja daerah belum maksimal, tren APBP yang biasanya surplus di akhir tahun dan defisit di awal tahun bisa berubah," kata dia.
Dari sisi moneter, BI juga diharapkan melonggarkan BI rate 50 basis poin menjadi 7% pada tahun depan demi mendorong kinerja pertumbuhan ekonomi. Meski BI rate turun, sementara FFR naik ke level 1-1,25% tahun depan, interest rate differential tetap akan sama di kisaran 600 basis poin. Lagi pula, nominal (7,1%) maupun real interest rate (2,1%) Indonesia masih menjadi nomor tiga paling kompetitif setelah Brasil dan Turki.
"Brasil dan Turki memang harus menjaga interest rate mereka karena premium risk yang tinggi menyusul rating kredit mereka diturunkan oleh Fitch," tambahnya.
Namun, Asmo melihat masih ada peluang kenaikan ekspor tahun depan ke India dan AS meski tidak signifikan. Terutama melihat peluang pertumbuhan ekonomi kedua negara. Ekspor Indonesia ke India mencapai 7% utamanya untuk bahan bakar nabati (46%) dan minyak nabati (30%). Sementara ke AS ekspor Indonesia mencapai 9,4% dengan produk utama apparel dan karet. "Produsen karet meski melihat tren harga lemah masih akan berlanjut tapi masih melihat ada peluang," kata dia.
Ekspor Indonesia ke dua negara tersebut secara share mencapai 14%, salah satu yang terbesar setelah Tiongkok. Namun dampak net ekspor terhadap PDB masih sekitar 10%. "Meski peningkatan tidak sedrastis sektor lain tapi dampak positifnya akan berasa di sektor ekspor teksti misalnya bagi industri manufaktur berbasis tekstil di Jateng dan Jatim," kata Asmo.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




