ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Oil Glut, Produksi Minyak Bumi Indonesia Bisa Terhenti

Rabu, 6 Januari 2016 | 15:41 WIB
MS
FB
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: FMB
Ilustrasi kilang minyak dan gas (migas)
Ilustrasi kilang minyak dan gas (migas) (Istimewa)

Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI, Inas Nasrullah Zubir, memprediksi akan terjadi banjir produksi minyak bumi di dunia, yang mengancam perusahaan kontraktor kerja sama pengeboran minyak bumi nasional berhenti berproduksi. Pasalnya, harga minyak bumi dunia akan semakin turun akibat banjir produksi dimaksud.

Pemerintah pun didesak menyusun strategi pintar menghadapinya.

Dijelaskan Inas, shale oil/gas di Amerika Serikat diproduksi besar-besaran karena biaya memproduksinya murah. Bahkan memproduksi shale oil cukup dengan alat pengebor portable yang bisa diangkat dengan mobil pick-up biasa.

"Kalau parlemen Amerika menyetujui, maka mereka akan mulai mengekspor minyak bumi pada tahun ini," kata Inas, Rabu (6/1).

ADVERTISEMENT

Dilanjutkan dia, Saudi Arabia pun tidak mau dominasinya terhadap minyak bumi direbut oleh negara lain. Oleh karena itu, mereka terus meningkatkan produksi minyak buminya dan diperkirakan pada tahun 2016 akan menjadi yang tertinggi dalam sejarah.

Rusia, dengan Presiden Putin, juga terus meningkatkan produksi minyak buminya menjadi yang tertinggi pada tahun 2015. Bahkan kabarnya, akan melewati produksi Arab Saudi demi mengejar kocek negaranya demi penemuan-penemuan teknologi persenjataan agar tetap sejajar dengan Amerika Serikat.

"Sehingga Rusia tidak mudah ditekan-tekan oleh Amerika dan sekutunya," imbuh Politikus Hanura itu.

Diingatkan Inas, tahun 2015, dunia mengenal sebuah fenomena baru, yakni "Oil Glut", atau banjirnya pasokan minyak bumi di dunia.

Total produksi minyak bumi dunia tahun 2015 adalah kurang lebih 82.000.000 barel per hari, dengan harga rata-rata sepanjang tahun adalah USD 35 per barel.

Dengan Shale Oil Amerika Serikat yang cadangan sudah proven sebesar 4.285 triliun barel, diperkirakan akan diproduksi 10.000.000 barel per hari, ujar Inas.

Sementara Eropa Timur akan ada tambahan sebesar 5.000.000 barel per hari, di mana 3.000.000 barel per hari berasal dari Laut Kaspia dan Kazakhustan.

Iran, pada tahun 1979 diembargo sehingga tidak dapat mengekspor minyak buminya yang pada saat itu berproduksi sebesar 6.000.000 barel per hari. Menurut Inas, jika embargo itu lepas, maka Iran akan memuntahkan minyak mentahnya dengan produksi sebesar 8.000.000 barel per hari.

Irak, yang jumlah produksinya pada tahun 2015 sebesar 3.000.000 barel per hari, akan meningkatkan menjadi 12.000.000 barel perhari untuk biaya pembangunan negerinya yang sudah porak poranda.

Sementara China, yang seperti biasanya akan senyap dulu, kata Inas, dipastikan akan ada kejutan tentang Shale oil di tahun 2016.

"Walhasil diperkirakan pada tahun 2016 produksi minyak dunia adalah 125.000.000 barel per hari dengan prediksi harga yang semakin murah. Yakni USD 15 sampai dengan USD 20 perbarel," kata Inas.

Di sisi Indonesia sendiri, biaya produksi minyak bumi sangat mahal yakni mencapai rata-rata USD 25 per barel, sehingga sulit meningkatkan lifting nasional.

"Bisa jadi KKKS akan berhenti memproduksi minyak bumi dan berdampak kepada produksi BBM Pertamina," kata Inas.

"Oleh karena itu, Pemerintah harus segera membangun Strategic Petroleum Reserve untuk menjamin Ketahanan Energi umumnya dan Ketahanan migas khususnya," tandasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon