ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Benih Sayuran Ewindo Disukai Petani Majalengka

Minggu, 31 Januari 2016 | 00:00 WIB
P
EH
FH
Penulis: PR, Euis Rita Hartati
Editor: FER
Aktivitas para penjual dan pembeli di Pasar Koja Baru, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 24 Agustus 2015.
Aktivitas para penjual dan pembeli di Pasar Koja Baru, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 24 Agustus 2015. (Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta)

Jakarta - Sejumlah petani asal Majalengka Jawa Barat mengandalkan bercocok tanam sayuran sebagai sumber pendapatan, disamping padi. Selain memberikan keuntungan lebih besar, sayuran juga lebih singkat masa panennya, terutama karena menggunakan benih dari PT East West Seed Indonesia (Ewindo).

Siaran pers yang diterima Investor Daily, Sabtu (30/1), menyebutkan, Ewindo belum lama ini meluncurkan varietas unggul timun jenis Etha 87 F1 yang ditujukan untuk wilayah Jawa (Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah) yang tahan terhadap Gemini Virus serta hanya membutuhkan waktu 34 hari agar siap dipanen.

r

"Kebetulan kami berkenalan dengan produsen benih sayuran hybrida PT East West Seed Indonesia (Ewindo) yang memberikan pendampingan kepada petani yang baru mulai bercocok tanam sayuran," kata Sobana, petani asal Desa Kedungsari .

r

Sobana mengaku memang baru setahun ini menekuni bercocok tanam dengan bermodalkan lahan seluas setengah hektar untuk memproduksi timun lalap.

ADVERTISEMENT
r

"Awalnya memang kesulitan tetapi dengan bimbingan dari Ewindo pada akhirnya berhasil mengembangkan tanaman sayuran terutama timun," ujar dia.

r

Sementara itu, Kadmira, petani asal desa Pangkalan Pari Majalengka mengatakan tantangan bagi petani sayur adalah serangan hama dan penyakit serta iklim yang ekstrim. Selain itu, petani juga kesulitan memperoleh akses permodalan agar dapat mengembangkan lahan pertanian sayur diantaranya untuk sewa tanah, biaya air, pupuk, obat, serta tenaga kerja.

r

Menurut Kadmira, modal terbesar untuk pengembangan lahan pertanian adalah sewa tanah, kalau hanya mengandalkan tanah sendiri luasnya sangat terbatas, padahal permintaan komoditi sayuran terus meningkat setiap tahunnya.

r

"Kami biasanya bercocok tanam timun, kacang panjang, paria, dan oyong yang sudah dapat dipanen dalam waktu dua bulan saja," kata Kadmira.

r

Kadmira mengatakan, bercocok tanam sayur terutama timun menjadi andalan penduduk desa disamping padi. Petani yang telah bertanam timun sejak tahun 90 an itu mengatakan pasar timun asal Majalengka ini tidak hanya kawasan Jawa Barat. Dengan ukuran 15 centimeter dengan rasa lebih manis timun asal Majalengka juga banyak dipasok ke Pasar Induk Keramatjati Jakarta.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon