Isu Ketahanan Pangan Landasi Akuisisi Syngenta US$ 43 M
Kamis, 4 Februari 2016 | 00:13 WIB
Beijing – Perusahaan milik negara Tiongkok, China National Chemical Corp (ChemChina), Rabu (3/2) mendapatkan restu untuk mengakuisisi raksasa benih dan pestisida asal Swiss, Syngenta, senilai US$ 43 miliar. Selain alasan ekspansi dan akses di luar negeri, ada isu ketahanan pangan di balik kesepakatan ini.
Berdasarkan nilainya, ini akan menjadi akuisisi terbesar di luar negeri oleh sebuah perusahaan Tiongkok. Bagi perusahaan kimia terbesar Tiongkok tersebut, ini merupakan investasi yang kesekian di luar negeri, seiring dorongan dari pemerintah agar swastanya aktif berekspansi ke luar negeri.
Dewan direksi Syngenta merestui penawaran US$ 465 per saham plus dividen khusus bagi para pemegang sahamnya.
"Transaksi ini juga menghargai kepentingan seluruh pemegang saham. Lewat kesepakatan ini, Syngenta bisa memperluas ekspansi ke pasar berkembang, khususnya Tiongkok," kata Syngenta dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip AFP.
Namun, ada alasan logis juga yang melandasi langkah ChemChina. Tiongkok selaku pasar pertanian terbesar di dunia terus mencari cara untuk mengamankan pasokan pangan bagi sekitar 1,4 miliar populasi penduduknya.
Portofolio Syngenta yang mencakup produk kimia, pupuk, dan berbagai varietas benih berpaten yang kesemuanya kualitas tertinggi akan bisa meningkatkan dan memperbarui produksi pertanian Tiongkok.
"Hanya sekitar 10% lahan pertanian Tiongkok yang efisien. Ini lebih dari sekadar satu perusahaan membeli perusahaan lainnya. Ini merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan riil," ujar sumber yang mengetahui kesepakatan tersebut, kepada Reuters.
Pengembangan pertanian selama bertahun-tahun, ditambah penggunaan berlebihan bahan kimia, disebut telah menurunkan kualitas lahan dan mencemari pasokan air. Hal ini yang menyebabkan Tiongkok makin rentan terhadap penurunan hasil panen.
Kesepakatan akuisisi Syngenta cocok dengan rencana pemerintah Tiongkok untuk memodernisasi pertanian selama lima tahun terakhir. Sedangkan upaya efisiensi pertanian dilakukan dengan mendukung konglomerasi pertanian besar-besaran, menggantikan sektor yang tadinya didominasi para petani kecil dengan luas lahan sempit.
Selain itu, ada kesenjangan yang kian lebar antara pertumbuhan populasi penduduk dan ketersediaan lahan pertanian. Menurut laporan Jefferies Group LLC, Tiongkok menyumbang 21% populasi dunia tapi hanya 9% tanahnya yang subur.
Dari sini, status Syngenta sebagai produsen pestisida terbesar dunia dan produk-produk benih unggulannya akan membantu produksi pangan Tiongkok per hektare. Dengan sekitar 1,4 miliar mulut yang harus diberi makan, Tiongkok membutuhkan lonjakan produktivitas pertanian luar biasa.
Selama ini, produksi terhambat oleh kerusakan tanah, air yang tercemar, dan penggunaan berlebihan pupuk serta pestisida. Presiden Tiongkok Xi Jinping sudah menyinggung peningkatan produksi pertanian sebagai salah satu prioritas dan mendesak untuk memimpin dalam pengembangan produk-produk hasil rekayasa genetik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




