Gubernur ECB: Jangan Terlambat Atasi Inflasi
Jumat, 5 Februari 2016 | 01:09 WIB
Frankfurt – Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi memperingatkan risiko yang harus dihadapi jika terlambat mengambil tindakan untuk mengatasi kegigihan laju inflasi yang masih rendah di zona euro. Komentar yang dilontarkannya tersebut cenderung memicu spekulasi bahwa ECB tengah mempersiapkan langkah stimulus baru dengan segera.
"Dalam konteks laju inflasi rendah berkepanjangan, kebijakan moneter tidak dapat diredam mengenai suksesi guncangan persediaan," kata Draghi dalam ceramah yang disampaikan dalam konferensi, Kamis (4/2).
Dalam ceramah, yang diselenggarakan oleh bank sentral Jerman atau Bundesbank, dia menyatakan mengambil sikap untuk menungggu dan melihat serta memperluas prospek kebijakan yang diiringi dengan risiko-risiko, yakni de-anchoring abadi terhadap ekspektasi yang mengarah pada inflasi yang terus menerus melemah.
"Dan jika itu yang terjadi maka kita akan membutuhkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif utuk membalikkannya. Dilihat dari perspektif itu maka risiko yang dihadapi jika bertindak terlambat akan lebih besar daripada risiko jika bertindak lebih dini," ujar dia.
ECB sendiri sudah menurunkan tingkat suku bunga ke level terendah, kemudian memompa jumlah likuiditas luar biasa ke dalam sistem keuangan dan meluncurkan program pembelian obligasi besar-besaran atau quantitative easing (QE) yang bertujuan mencoba dan menggerakkan inflasi di 19 negara yang berada dalam blok mata uang tunggal.
Akan tetapi, harga-harga konsumen di wilayah ini sedikit mengalami peningkatan sebesar 0,4% pada Januari atau jauh dari level 2% yang dipandang ECB sebagai tanda kondusif bagi pertumbuhan ekonomi yang sehat.
Akibatnya, pada bulan lalu, Draghi menunjukkan bahwa langkah kebijakan lebih lanjut dapat dilakuan, pada Maret, jika ECB merasa tingkat inflasi yang terus-menerus masih rendah merupakan ancaman yang meningkat bagi pemulihan ekonomi.
Salah satu faktor utama di balik tingkat inflasi rendah saat ini – atau disebut disinflasi oleh kalangan ekonom – adalah turunnya harga minyak.
Di sisi lain, pada prinsipnya harga energi yang lebih rendah merupakan booming bagi para konsumen dan perusahaan, karena tagihan bahan bakar yang lebih rendah akan meningkatkan daya beli
Namun karena fenomena tersebut cenderung bersifat sementara maka beberapa pengamat berpendapat kalau ECB harus melihat penurunan harga minyak di masa lalu dan hanya mengulur waktu prospek bagi inflasi di area yang luas untuk kembali ke level-level yang ditargetkan.
"Ada beberapa pendapat bahwa selama kita mengalami sebagian guncangan persediaan global yang positif maka bank-bank sentral tidak harus menjadi terlalu responsif. Kita hanya dapat mendefinisikan ulang prospek di jangka menengah di mana stabilitas harga tetap terjaga dan menunggunya keluar hingga target inflasi kami kembali," tutur Draghi.
Namun Draghi melanjutkan bahwa dengan menyerah pada laju inflasi yang rendah dan menyerah pada kekuatan disinflasi yang tak terhindarkan maka hal itu pada akhirnya hanya akan membantu mengekalkan disinflasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




