ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Rizal Ramli: Saatnya Bangun Industri Perikanan Nasional

Kamis, 18 Februari 2016 | 21:19 WIB
TL
B
Penulis: Tri Listiyarini | Editor: B1
Ilustrasi Industri Perikanan
Ilustrasi Industri Perikanan (suara pembaruan/suara pembaruan)

Jakarta - Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menyatakan bahwa saat ini adalah momentum yang tepat untuk membangun industri perikanan nasional yang bernilai tambah. Ketegasan Indonesia dalam menindak pencuri ikan membuat pasokan di Tanah Air berlimpah, sehingga peluang bagi industri pengolahan untuk berkembang sangat besar.

Rizal Ramli mengatakan, ketegasan Indonesia dalam mengatasi praktik pencurian ikan (illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing telah berdampak buruk bagi industri perikanan negeri tetangga. Industri perikanan negara tetangga semula hidup dari ikan curian dari Indonesia. Namun karena pemberantasan praktik IUU fishing gencar dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, kini industri perikanan negara tetangga banyak yang mati. "Saat ini adalah momentum yang tepat bagi Indonesia untuk membangu industri perikanan," kata dia saat paparan program Kemenko Maritim dan Sumber Daya di Jakarta, Kamis (18/2).

Dia mengatakan, sudah seharusnya pembangunan industri perikanan nasional diarahkan kepada produk yang bernilai tambah. Misalnya, pengembangan industri perikanan yang memanfaatkan tulang dan kepala ikan. Apabila sebelumnya, industri hanya memanfaatkan daging ikan, ke depan tulang dan kepala ikan yang semula dibuang harus dimanfaatkan. "Kepala ikan itu kaya Omega 3. Orang Manado dan Palembang malah bisa menjadikannya makanan yang enak. Tulang ikan juga bisa dibuat tepung ikan yang bagus untuk pakan ternak. Kalau ini berhasil, Indonesia yang tadinya jadi importir tepung ikan, bisa menjadi eksportir," tandas Rizal.

Menurut dia, pengembangan industri perikanan nasional juga sangat memungkinkan karena saat ini pemerintah telah mengeluarkan bisnis gudang pendingin (cold storage) dari Daftar Negatif Investasi (DNI) sehingga terbuka sepenuhnya bagi investasi asing. "Kelemahan kita di bisnis perikanan adalah tidak adanya rantai pendingin. Banyak buah berkualitas bagus, ikan dan ternak di Indonesia, tapi tidak ada rantai pasokan yang bagus untuk menyalurkannya," kata dia seperti dilansir situs resmi Kemenko Maritim dan Sumber Daya.

ADVERTISEMENT

Rizal menyatakan, bisnis perikanan tangkap sudah dipastikan tertutup bagi investor asing guna mendorong nelayan lokal. Sementara bisnis pengolahan perikanan, termasuk cold storage, bisa dimasuki investor asing karena memiliki teknologi yang belum dikuasai Indonesia. Bahkan, sudah banyak investor luar negeri yang berminat untuk membangun industri ruang pendingin tersebut. "Kalau ada cold storage, ikan dan komoditas lainnya bisa tahan berbulan-bulan. Kalau ada sistem logistik dengan cold storage, kita bisa ekspor ke seluruh dunia. Ini langkah strategis," ujar dia.

Bidang usaha cold storage dalam Perpres No 39 Tahun 2014 masuk subsektor perdagangan dengan pembatasan kepemilikan modal asing serta lokasi. Melalui revisi DNI yang tertuang dalam paket kebijakan ekonomi X yang diluncurkan pemerintah baru-baru ini, bisnis tersebut direlaksasi dengan tujuan dapat menarik investasi asing langsung pada sektor pendukung di bidang kelautan dan perikanan serta membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.

Lebih jauh Rizal Ramli menuturkan, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia. Untuk merealisasikan komitmen tersebut, pemerintah dalam hal ini Kemenko Maritim dan Sumber Daya akan memfasilitasi asuransi nelayan di Tanah Air. "Nelayan kita paling miskin dibanding profesi lain. Kita bantu nelayan, supaya kehidupannya makin lama makin baik. Awalnya, nelayan akan diberikan asuransi gratis selama enam bulan dulu. Kenapa enam bulan? Supaya para nelayan membiasakan diri," ujar dia.

Rizal juga menuturkan, dengan asuransi tersebut, apabila terjadi kecelakaan di laut maka pengobatan nelayan masih bisa tercakup. Sementara itu, keluarganya juga masih bisa mendapat pegangan uang. "Jika sampai ada yang meninggal, akan mendapat jaminan sekitar Rp 36 juta. Tidak besar memang, tapi sangat membantu," tegas Rizal.

Dia juga menyatakan, pola kehidupan nelayan Indonesia juga harus diubah. Selama ini, kampung nelayan itu jorok dan kotor. Idealnya, kampung nelayan bisa seperti di Eropa yang sangat bersih. "Kita bangun pilot project kampung nelayan di Indramayu, lengkap dengan saluran air bersih. Anggarannya bukan pakai budget kita, tapi kita undang dari tanggung jawa perusahaan (CSR). Apabila ini sukses, nanti ada 15 wilayah serupa di Indonesia," jelas Rizal.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon