ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

PGE Percepat Proyek Panas Bumi

Rabu, 13 Juli 2016 | 15:16 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Pekerja mengawasi sumur panas bumi (Geothermal) Unit 5-6 di Desa Tompaso, Minahasa, Sulawesi Utara, 30 Maret 2016. FOTO: BeritaSatu Photo/Danung Arifin
Pekerja mengawasi sumur panas bumi (Geothermal) Unit 5-6 di Desa Tompaso, Minahasa, Sulawesi Utara, 30 Maret 2016. FOTO: BeritaSatu Photo/Danung Arifin

Jakarta– PT Pertamina (Persero), melalui anak usahanya PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) melakukan berbagai upaya untuk mempercepat realisasi proyek panas bumi, mulai dari pemboran hingga pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

"Saat ini semua sedang dikerjakan. Bahkan untuk rig bor kami sampai menggunakan delapan rig pemboran dan membangun empat PLTP secara bersamaan, sepertinya kami sudah full speed," ujar Sekretaris Perusahaan PGE, Tafif Azimudin, di Jakarta, Rabu (13/7).

Hingga akhir 2016, kapasitas terpasang PLTP yang dikelola PGE menjadi 542 megawatt (MW) dengan masuknya tambahan 105 MW dari tiga pembangkit, yakni PLTP Ulubelu Unit 3 berkapasitas 55 MW, PLTP Lahendong Unit 5 berkapasitas 20 MW, dan PLTP Karaha Unit 1 berkapasitas 30 MW. "Untuk merealisasikan tiga proyek PLTP tersebut, Pertamina telah mengeluarkan investasi hingga US$ 525 juta," jelas Tafif.

PGE pada 2017 juga akan menjadi perusahaan yang mengelola PLTP dengan total kapasitas terbesar, yakni 677 MW. Total investasi yang dikeluarkan untuk membiayai kapasitas tersebut ditaksir mencapai US$ 5 miliar. "Kami juga menyiapkan US$ 2,5 miliar untuk meningkatkan lagi kapasitas PLTP menjadi 907 MW pada 2019," katnya.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, secara umum tidak ada kendala yang berarti dalam merealisasikan proyek panas bumi. Namun PGE menemui kendala pada proyek Lumutbalai, Lampung. Lokasi yang direncanakan dibangun konstruksi PLTP setelah dibuka ternyata merupakan zona patahan yang sangat berpotensi longsor sehingga menghambat kemajuan proyek. "Selain itu, terjadinya bencana longsor di Hululais, Bengkulu yang merusakkan tiga sumur. Tentu ini akan memundurkan realisasi proyek," katanya.

Sementara itu, lanjut Tafif, untuk harga jual listrik panas bumi, saat ini sudah ada head of agreement (HoA) antara PT PLN (Persero) dan PGE. Namun, harga tersebut belum aplikatif karena masih diverifikasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai syarat untuk adendum kontrak dengan PLN.

Direktur Panas Bumi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saefulhak mengatakan selain menjadi pengembang panas bumi terbesar, PGE juga menjadi perusahaan yang paling besar komitmen untuk membangun PLTP hingga 2025. "Terbukti proyek-proyeknya di sembilan lokasi, mulai dari eksplorasi, eksploitasi dan kontruksi," tegas Yunus.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Dorong Pengembangan Energi Hijau, Pemda Bengkulu Dukung PLN Kembangkan PLTP Hululais dan Kepahiang

Dorong Pengembangan Energi Hijau, Pemda Bengkulu Dukung PLN Kembangkan PLTP Hululais dan Kepahiang

EKONOMI
Cuaca Buruk, Prabowo Resmikan Proyek Energi Terbarukan secara Daring

Cuaca Buruk, Prabowo Resmikan Proyek Energi Terbarukan secara Daring

EKONOMI
Bahlil: Proyek EBT di 15 Provinsi Gaet Investasi Rp 25 Triliun

Bahlil: Proyek EBT di 15 Provinsi Gaet Investasi Rp 25 Triliun

EKONOMI
Daftar PLTP-PLTS di 15 Provinsi yang Baru Diresmikan Prabowo

Daftar PLTP-PLTS di 15 Provinsi yang Baru Diresmikan Prabowo

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon