ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ini Strategi Pelindo II Turunkan Dwelling Time

Jumat, 7 Oktober 2016 | 19:42 WIB
CF
FH
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: FER
Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G Masassya, memberikan paparan tentang target perseroan untuk mencapai target
Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G Masassya, memberikan paparan tentang target perseroan untuk mencapai target "dwelling time" 2,5 hari pada Januari 2017, saat media gathering di Bandung, Jawa Barat, Jumat 7 Oktober 2016. (Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta Barus)

Bandung - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC menargetkan akan dapat memangkas Dwelling Time di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara yang merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia dari yang saat ini masih di atas 3 hari menjadi 2,5 hari pada awal tahun 2017.

Ada sejumlah langkah yang akan dilakukan oleh PT Pelindo II untuk mencapai target yang sudah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan Pelabuhan New Priok Kalibaru Tahap Pertama (NPCT1) pada 13 September 2016 lalu.

Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G Masassya, mengatakan, pihaknya memiliki komitmen untuk menyanggupi apa yang diminta oleh pemerintah pusat untuk bisa mencapai target Dwelling Time hanya 2,5 hari saja di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Awal tahun depan ini pada Januari 2017 angka dwelling time kita pastikan bisa dibawah 3 hari, dan hal itu kita lakukan dengan cara memperbaiki sistem pengurusan dokumen online, memangkas peraturan terkait tarif penumpukan, membatasi waktu maksimal penumpukan, dan mempercepat proses bongkar muat," ujar Elvyn, Jumat (7/10) sore saat Media Briefing dan Gathering di Intercontinental Bandung Dago Pakar, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, proses Dwelling Time bisa mencapai 2,5 hari bila seluruh peraturan dan kinerja dari tiga tahapan utama, yakni Pre Clearance, Custom Clearance, dan Post Clearance bisa dilakukan dengan maksimal mulai dari pengurusan dokumen dan proses bongkar muat dapat tercapai dengan kerja sama erat antara Pelindo II, Bea dan Cukai, Kesyahbandaran, Kantor Otoritas Pelabuhan, Balai Karantina, dan jajaran stakeholder lainnya yang terkait.

"Bongkar muat kita percepat, peralatan kita perbanyak, kita perbaiki, karakter tugas SDM kita latih, satu unit crane bisa mengangkat 25-28 kontainer per jam di Pelabuhan Tanjung Priok, pembayaran menggunakan elektronik, tidak ada cash lagi, sistem parking truk supaya tidak antri di jalan raya luar pelabuhan, sistem auto gate, dan integrasi Inaportnet," tambah Elvyn.

Pelindo II sendiri membawahi 13 pelabuhan utama disejumlah lokasi tersebar di Indonesia, yakni: Jambi, Panjang, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Pangkal Balam, Tanjung Pandan, Tanjung Priok, Cirebon, Pontianak, Teluk Bayur, dan Bengkulu.

"Core bisnis utama kita ada di jasa perkapalan, jasa kargo, dan jasa service peralatan dan pelabuhan serta sewa lahan. Kita juga akan mengembangkan bisnis bergerak di usaha bidang lain, tapi untuk saat ini kita fokus pada kegiatan pelabuhan yakni layanan barang ekspor dan impor dengan biaya murah dan kecepatan tinggi, serta added value," lanjutnya.

Ia mengungkapkan secara kinerja perusahaan, Pelindo II memiliki pertumbuhan margin profit cukup besar dari semester pertama 2015 sebesar Rp 3,4 Triliun (24 persen) menjadi Rp 4,2 Triliun (32 persen) pada semester pertama 2016 dengan sumber kenaikan profit utama dari jasa kapal maupun jasa bongkar muat barang.

"Visi misi kita sampai 2020 untuk mencapai World Class Port, dan oleh sebab itu semua 7 direktur di bawah jajaran saya punya tugas luar biasa setiap tahun untuk melancarkan dan mengembangkan infrastruktur pelabuhan untuk mendukung program tol laut dan penurunan biaya logistik barang. Saat ini Pelabuhan Tanjung Priok masih nomor 22 di bawah Singapura, tapi pada 2020 kita harap bisa mengejar ketertinggalan itu dengan mereka," tandasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon