Indonesia-Korsel Sepakati Perdagangan Bilateral US$ 50 Miliar
Kamis, 29 Maret 2012 | 08:35 WIB
Indonesia memiliki potensi pesar, dan itu belum semua didayagunakan
Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral hingga mencapai US$ 50 miliar pada 2015.
Kesepakatan itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hari terakhir kunjungan kerjanya ke Korea Selatan, hari ini.
"Indonesia memiliki potensi pesar, dan itu belum semua didayagunakan. Indonesia tentu memerlukan kekuatan baik yang dimiliki di luar negeri dan kemitraan bersama untuk mengembangkan ekonomi," kata Presiden.
Peluang itu, kata Presiden, kemudian menjadi dasar kemitraan strategis Indonesia-Korea Selatan yang mendorong kerja sama kedua negara sehingga target nilai perdagangan US$ 50 miliar pada 2015 sangat mungkin dicapai.
"Sejak itu (kemitraan strategis) kerjasama dan kemitraan meningkat dengan baik, sebagai contoh volume perdagangan pada 2007 sekitar US$ 10 miliar, tahun 2011 mencapai US$ 30 miliar," ujarnya.
Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan segala bentuk kerja sama dengan negara sahabat terlaksana dengan baik dan menyeluruh.
Ia kemudian mencontohkan pertemuan tim Indonesia dan Korea Selatan pascapeluncuran MP3EI untuk secara khusus membahas kerja sama yang dapat dilakukan kedua negara untuk program itu.
"Untuk itu, saya berharap investasi yang dibangun dalam MP3EI bisa meningkat seperti perdagangan, misal 2015 kita capai US$ 50 miliar maka investasi angkanya sejalan dengan itu sehingga manfaatnya bagi Indonesia sangat nyata," katanya.
Menurut Presiden, Indonesia secara khusus mengundang Korea Selatan untuk melakukan investasi di bidang industri misal dalam industri baja, dan pembangunan infrastruktur.
Selain membahas mengenai peluang kerja sama di bidang perdagangan dan investasi, pertemuan bilateral antara Presiden Yudhoyono dan Presiden Lee Myung-bak juga membahas peluang kerja sama di bidang pertahanan, energi dan ketenagakerjaan.
"Kami sepakat (kerja sama energi) harus meluas, tidak hanya minyak dan batu bara, tetapi harus masuk pula ke energi terbarukan," katanya.
Kunjungan kerja Presiden ke Korea Selatan merupakan bagian dari kunjungan kerjanya ke Beijing, Hongkong dan Seoul, yang berlangsung selama delapan hari, 22-29 Maret.
Presiden beserta rombongan dijadwalkan tiba di tanah air pada Kamis (29/3) sore.
Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral hingga mencapai US$ 50 miliar pada 2015.
Kesepakatan itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hari terakhir kunjungan kerjanya ke Korea Selatan, hari ini.
"Indonesia memiliki potensi pesar, dan itu belum semua didayagunakan. Indonesia tentu memerlukan kekuatan baik yang dimiliki di luar negeri dan kemitraan bersama untuk mengembangkan ekonomi," kata Presiden.
Peluang itu, kata Presiden, kemudian menjadi dasar kemitraan strategis Indonesia-Korea Selatan yang mendorong kerja sama kedua negara sehingga target nilai perdagangan US$ 50 miliar pada 2015 sangat mungkin dicapai.
"Sejak itu (kemitraan strategis) kerjasama dan kemitraan meningkat dengan baik, sebagai contoh volume perdagangan pada 2007 sekitar US$ 10 miliar, tahun 2011 mencapai US$ 30 miliar," ujarnya.
Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan segala bentuk kerja sama dengan negara sahabat terlaksana dengan baik dan menyeluruh.
Ia kemudian mencontohkan pertemuan tim Indonesia dan Korea Selatan pascapeluncuran MP3EI untuk secara khusus membahas kerja sama yang dapat dilakukan kedua negara untuk program itu.
"Untuk itu, saya berharap investasi yang dibangun dalam MP3EI bisa meningkat seperti perdagangan, misal 2015 kita capai US$ 50 miliar maka investasi angkanya sejalan dengan itu sehingga manfaatnya bagi Indonesia sangat nyata," katanya.
Menurut Presiden, Indonesia secara khusus mengundang Korea Selatan untuk melakukan investasi di bidang industri misal dalam industri baja, dan pembangunan infrastruktur.
Selain membahas mengenai peluang kerja sama di bidang perdagangan dan investasi, pertemuan bilateral antara Presiden Yudhoyono dan Presiden Lee Myung-bak juga membahas peluang kerja sama di bidang pertahanan, energi dan ketenagakerjaan.
"Kami sepakat (kerja sama energi) harus meluas, tidak hanya minyak dan batu bara, tetapi harus masuk pula ke energi terbarukan," katanya.
Kunjungan kerja Presiden ke Korea Selatan merupakan bagian dari kunjungan kerjanya ke Beijing, Hongkong dan Seoul, yang berlangsung selama delapan hari, 22-29 Maret.
Presiden beserta rombongan dijadwalkan tiba di tanah air pada Kamis (29/3) sore.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




