Jangka Menengah, Perdagangan RI Berisiko Pascapilpres AS
Kamis, 10 November 2016 | 08:34 WIB
Jakarta - Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) memberi reaksi yang beragam ke pasar Indonesia. Kemenangan Donald Trump dari Partai Republik yang sudah di depan mata, membuat pasar saham dan nilai tukar rupiah terdepresiasi (melemah) cukup tajam.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Rabu (10/11) sempat melorot hingga 1,6 persen, sedangkan nilai tukar rupiah kemarin melemah 0,33 persen menjadi Rp 13.127 per dolar AS. "Tertekannya indeks dan rupiah masih efek sementara," kata Ekonom PT Bahana Securities Fakhrul Fulvian, dalam keterangannya kepada Beritasatu.com di Jakarta, Kamis (10/11).
Dia mengatakan, untuk jangka menengah, terpilihnya Trump memberi risiko ketidakpastian terhadap perdagangangan Indonesia. Pasalnya tegas dia, Trump dalam kampanyenya memberikan memprioritaskan terhadap produksi rakyat AS.
Bila melihat data statistik Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2013, ekspor Indonesia ke AS naik cukup signifikan dari hanya 7,9 persen pada tahun 2013 menjadi 11,3 persen pada Agustus 2016.
Apalagi Presiden Joko Widodo telah mengatakan keinginannya untuk bergabung dengan Trans Pacific Partnership (TPP), guna mendukung industri tekstil dan sektor lainnya. "Bila Trump mengemplementasikan semua janji-janji kampanyenya, ada beberapa potensi risiko perdagangan yang mungkin timbul," kata dia.
Untuk itu, menurut Fakhrul, perjanjian perdagangan seperti NAFTA, atau TPP kemungkinan besar bisa diminta untuk renegosiasi.
Donald Trump, berhasil mengalahkan rivalnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dengan meraih setidaknya 276 suara elektoral, demikian perhitungan dari sejumlah media setempat. Trump bahkan secara mengejutkan merebut sejumlah negara bagian yang biasanya dimenangi oleh Clinton seperti Pennsylvania, Wisconsin, dan Iowa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




