ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Swasta Minta Kemudahan Garap Proyek 35.000 MW

Kamis, 8 Desember 2016 | 16:44 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Diskusi Harmonisasi Sinergi Pemerintah dan Swasta Untuk Mempercepat Realisasi Proyek Pembangkit Listrik. Tampak kiri-kanan: Afrizal, Kasubdit Pelayanan Usaha Ditjen Ketenagalistrikan, ESDM; Dirut Bekasi Power Teguh Setiawan; moderator Hidayat Tantan; Dirut PT Cirebon Energi Prasarana Heru Dewanto, dan Direktur Pengembangan Bisnis PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
Diskusi Harmonisasi Sinergi Pemerintah dan Swasta Untuk Mempercepat Realisasi Proyek Pembangkit Listrik. Tampak kiri-kanan: Afrizal, Kasubdit Pelayanan Usaha Ditjen Ketenagalistrikan, ESDM; Dirut Bekasi Power Teguh Setiawan; moderator Hidayat Tantan; Dirut PT Cirebon Energi Prasarana Heru Dewanto, dan Direktur Pengembangan Bisnis PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (Whisnu Bagus)

Jakarta– Pelaku usaha meminta dukungan pemerintah untuk mewujudkan proyek pembangunan pembangkit 35.000 megawatt (MW). Apalagi saat ini swasta menjadi tulang punggung proyek yang dicanangkan Presiden Joko Widodo pada pertengahan 2015 tersebut.

Direktur Utama PT Cirebon Energi Prasarana, Heru Dewanto mengatakan pada awal pencanangan, sekitar 80 persen proyek pembangkit 35.000 MW akan dibiayai anggaran negara. Namun saat ini lebih dari 60 persen proyek 35.000 MW berasal dari swasta. Jadi pemerintah mengharapkan swasta menjadi tulang punggung.

"Kalau pemerintah sudah menyerahkan ke swasta, seharusnya pemerintah memberikan ‘jalan tol’ ke swasta untuk merealisasikan itu," ujar Heru pada diskusi publik "Harmonisasi Sinergi Pemerintah dan Swasta untuk Mempercepat Proyek Pembangkit Listrik" di Jakarta, Kamis (8/12).

Heru mengatakan pergeseran pembiayaan tersebut juga harus diikuti shifting paradigma pemerintah maupun PT PLN (Persero), badan usaha milik negara di sektor ketenagalistrikan. PLN saat ini berada posisi dilematis, satu sisi sebagai operator, di sisi lain sebagai agen perubahan. "Jadi misalnya, PLN punya 100 proyek pembangkit. Proyek yang bagus tentu akan dipegang sendiri, sedangkan yang tidak bagus diserahkan ke swasta," ungkap Heru.

ADVERTISEMENT

Menurut Heru, harmonisasi antara pemerintah dan swasta diperlukan dalam merealisasikan proyek 35.000 MW. Pasalnya, regulasi di pusat dan sektor kerap tidak ketemu sehingga sejumlah proyek tertunda. Hal ini karena berbagai faktor, mulai persoalan lahan, lingkungan, hingga ketenagakerjaan. "Yang penting peletakkan peran masing-masing. Pemerintah membuat, menerapkan, dan mengawal regulasi itu. Swasta mengamankan pembiayaan, skill dan teknologi," kata dia.

Direktur Utama PT Bekasi Power, anak usaha PT Jababeka Tbk (KIJA), Teguh Setiawan, mengatakan PLN seharusnya tidak memandang private power utility (PPU), seperti Bekasi Power sebagai saingan bisnis. Namun, PLN diharapkan menjadikan PPU sebagai pelengkap tugas PLN untuk memasok listrik ke masyarakat. "Investor itu saat masuk yang pertama kali ditanyakan adalah ketersediaan listrik. Listriknya darimana, sumbernya darimana," kata Teguh.

Private power utility merupakan perusahaan penyedia listrik yang memiliki wilayah usaha dan kewajiban melistriki wilayah usaha tertentu dan bekerja sama/terinterkoneksi dengan grid PLN. Adapun Bekasi Power tercatat mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) berkapasitas 130 megawatt (MW) di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi.

Menurut Teguh, Bekasi Power berencana membangun PLTG di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Namun, rencana pembangunan tersebut masih belum bisa terealisasi karena belum ada kesepakatan dengan PLN. "Semua sudah siap, lahan dan pembiayaan. Kendalanya, PLN maunya kami beli listrik ke mereka," kata dia.

Direktur Pengembangan Usaha PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Anung Dri Prasetya, menegaskan mencapai pertumbuhan ekonomi membutuhkan listrik. Untuk merealisasikan ketersediaan listrik, perlu sinergi antara pemerintah dan swasta. Sinergi sudah terjalin, namun kurang harmonis. "Bukit Asam sebagai BUMN, tapi juga bisa Independent Power Producer (IPP). Kami sangat siap, jika pemerintah tentukan, kami siap realisasikan 5.000 MW," kata dia.

Direktur Program Kelistrikan Direktorat Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Aliudin Sitompul, mengatakan saat ini tenaga listrik mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari dan menopang ekonomi. "Kalau ada investasi listrik Rp 1 triliun, multiplier effect-nya bisa sampai Rp 10 triliun," kata dia.





Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pengamat: Iklim Usaha Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi

Pengamat: Iklim Usaha Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi

EKONOMI
Prabowo Ingin Koperasi Desa Merah Putih Setara BUMN dan Swasta

Prabowo Ingin Koperasi Desa Merah Putih Setara BUMN dan Swasta

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon