Domestik Stabil
2017, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Lampaui Target APBN
Senin, 19 Desember 2016 | 07:33 WIB
Jakarta – Sejumlah ekonom optimistis, ekonomi Indonesia tahun depan bisa tumbuh di atas target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, yaitu 5,1%. Salah satu faktor yang dinilai menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi itu adalah stabilitas ekonomi yang terjaga dalam dua tahun terakhir.
Dengan stabilitas yang dimiliki itu, perekonomian Indonesia akan lebih tahan terhadap tekanan ekternal yang diperkirakan berlanjut pada 2017, seiring masih lemahnya perekonomian global. Apalagi, ketidakpastian perekonomian global kini bertambah menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan sikap protektif dalam kampanyenya.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) optimistis, perekonomian Indonesia pada 2017 bisa tumbuh di kisaran 5,3-5,6%. "Hasil proyeksi LIPI memperlihatkan hasil yang sedikit lebih optimistis dari pemerintah. Pesan moralnya adalah 'ayo kamu bisa'. Tahun 2017, kita berada di 5,3-5,6% atau level moderat 5,45%," kata peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Maxensius Tri Sambodo di Jakarta, pekan lalu.
Maxensius menjelaskan, konsumsi rumah tangga maupun pemerintah bisa menjadi pendorong utama perekonomian, sebagai dampak dari laju inflasi yang relatif terkendali karena diproyeksikan hanya mencapai 4% pada 2017.
Selain itu, rendahnya suku bunga acuan yang didukung oleh implementasi 14 jilid paket kebijakan ekonomi dapat mendorong kinerja investasi, sehingga bisa berdampak positif kepada kinerja pertumbuhan ekonomi mulai tahun depan.
Sementara itu, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara maksimal bisa mencapai sekitar 5,1-5,2% pada 2017 mendatang. "Perekonomian Indonesia tahun depan kami perkirakan bisa tumbuh sedikit lebih baik dari tahun 2016 ini, yaitu sekitar 5,1-5,2%," ujar dia seperti dikutip Antara.
Optimisme tersebut muncul dari beberapa indikasi perekonomian dunia. Di antaranya adalah penurunan produksi minyak mentah dunia sekitar 1,5 juta bph. Dampak lanjutannya, harga batu bara pun mengalami peningkatan mencapai US$ 100 dolar per ton pada Desember 2016. Dan jika kondisi tersebut bisa bertahan, maka peluang perekonomian Indonesia tahun 2017 sedikit lebih baik dari tahun 2016.
Optmisme terhadap perekonomian 2017 juga dikemukakan oleh ekonom Ryan Kiryanto. Meski sepajang tahun ini pertumbuhan kredit perbankan hanya single digit, namun pertumbuhan pembiayaan industri keuangan non bank (IKNB) tetap kencang. Seain itu, banyak perusahaan menggunakan jalur nonbank untuk pendanaan.
"Ini yang membuat ekonomi kita bisa tumbuh kurang lebih 5% tahun ini. Tahun 2017, akan menjadi new era of growth dengan pertumbuhan ekonomi 5,2%, bahkan bisa 5,5%," tandas Ryan yang juga menjabat sekretaris perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Indikator Makro
Stabilitas ekonomi Indonesia yang kuat dalam dua tahun terakhir tampak pada sejumlah indikator makro seperti inflasi, nilai tukar, likuiditas, neraca pembayaran, dan makroprudensial perbankan.
Inflasi dalam dua tahun terakhir stabil di level yang rendah. Pada 2015, inflasi tahunan hanya 3,3%, sedang pada 2016, inflasi kumulatif tahunan hingga Oktober hanya 3,31%. Untuk pertama kalinya, dalam dua tahun berturut-turut, inflasi Indonesia bisa stabil di bawah 4%.
Inflasi yang rendah dan stabil itu lebih disukai pelaku bisnis karena perencanaan dan proyeksi bisnis bisa lebih baik dilakukan. Kestabilan inflasi tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter dan penjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
BI, di bawah Gubernur BI Agus Martowardojo, tidak hanya menjaga inflasi dari sisi permintaan (demand) melalui rangkaian kebijakan moneter, tapi juga bersinergi dengan pemerintah menjaga sisi penawaran (supply) seperti pasokan dan distribusi barang. Langkah BI menginisiasi pembentukan tim pengendalian inflasi daerah (TPID) cukup signifikan mengatasi persoalan inflasi dari sisi suplai. Inflasi pada 2017 diperkirakan akan tetap rendah.
Indikator makro neraca pembayaran Indonesia (NPI) juga cenderung membaik, terutama pada 2016. NPI pada triwulan III-2016 tercatat surplus, ditopang oleh menurunnya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan, CAD saat Agus Martowardojo mulai memimpin BI merupakan CAD terburuk yang pernah dimiliki Indonesia, yaitu 4,4% dari PDB. "Pak Agus Marto memang punya tugas yang cukup berat. Dan kebijakan yang diambil konsisten untuk membawa CAD pada level yang aman," ujar dia.
Surplus NPI tercatat pada triwulan III-2016 sebesar US$ 5,7 miliar, meningkat signifikan dibandingkan dengan surplus sebesar US$ 2,2 miliar pada triwulan sebelumnya. Sampai akhir tahun ini, NPI diperkirakan bisa berada di posisi US$ 10 miliar. Ini menunjukkan keseimbangan eksternal perekonomian membaik.
Kondisi tersebut membuat cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2016 tercatat US$ 115,0 miliar. BI menilai, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Nilai tukar
Penguatan rupiah juga terus berlanjut meksipun pascapemilu presiden AS 8 November 2016 silam sempat tertahan. Selama triwulan III-2016, nilai tukar rupiah secara rata-rata menguat sebesar 1,39% dan mencapai level Rp 13.130 per dolar AS. Penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut pada Oktober 2016, secara rata-rata sebesar 0,71% dan ditutup pada level Rp 13.018 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah cenderung stabil yang tercermin dari volatilitas yang menurun. Volatilitas rupiah pada Oktober 2016 juga lebih rendah dari rata-rata kawasan dan lebih rendah dibandingkan dengan negara peers seperti rand Afrika Selatan, real Brasil, lira Turki, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan.
Kondisi likuiditas di pasar uang juga tetap terjaga, meskipun terdapat tekanan. Suku bunga PUAB O/N pada triwulan III-2016 mengalami penurunan dari 4,88% pada triwulan II-2016 menjadi 4,76% pada triwulan III-2016.
Implementasi BI 7-day RR Rate menggantikan BI Rate pada 19 Agustus 2016 dan kebijakan penurunan suku bunga kebijakan Oktober 2016 turut mendorong penurunan suku bunga PUAB tenor pendek. "(BI 7-day RR Rate) ini sebuah inovasi instrumen, karena suku bunga bisa langsung direspons oleh perbankan. Ini bisa mendukung BI untuk mendorong pertumbuhan yang ekspansif," tandas Lana.
Kondisi perbankan juga cukup solid. Pada akhir triwulan III-2016, ketahanan permodalan masih memadai dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat sebesar 22,3%, jauh di atas ketentuan minimum 8%.
Stabilitas ekonomi yang telah diciptakan BI ini dinilai akan menjadi fondasi yang kuat bagi upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




