Kemenperin Siapkan Tiga Strategi Hadapi Dua FTA
Selasa, 27 Desember 2016 | 22:13 WIB
Jakarta - Indonesia akan memprioritaskan negosiasi dua perdagangan bebas (free trade agreement/FTA), yakni Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA) dan Indonesia-European Union CEPA, tahun depan.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan tiga strategi untuk menghadapi dampak negatif dua FTA itu terhadap beberapa subsektor industri, yakni mengamankan pasar dalam negeri, memperluas penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), dan konsisten menerapkan program peningkatan penggunan produk dalam negeri (P3DN).
Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kemenperin Harjanto mengatakan, dua FTA itu bisa mengembangkan akses pasar industri nasional. Negosiasi dengan Uni Eropa (UE) pun diharapkan dapat selesai dalam dua tahun, sehingga Indonesia bisa lebih cepat mendapatkan preferensi tarif ke kawasan itu.
"Intinya bagaimana kita lebih cepat, karena di beberapa sektor industri, seperti TPT (tekstil dan produk tekstil), permasalahannya adalah bagaimana bisa mendapatkan preferensi tarif lebih baik. Kita sudah lihat negara tetangga yang sudah menjalin FTA dengan pasar tardisionalnya. Hasilnya akses pasar mereka lebih optimal," kata Harjanto di Jakarta, belum lama ini.
Harjanto mengatakan, dalam proses perundingan, kebanyakan negara bertahan dengan kepentingannya masing-masing. Sebab, tingkat perkembangan masing-masing negara berbeda, terutama untuk negara berkembang seperti Indonesia. Negara berkembang cenderung memiliki banyak keterbatasan ketimbang negara maju. Contohnya, dalam kasus Indonesia-European Union CEPA, industri Indonesia akan mendapatkan preferensi tarif ekspo. Namun, di sisi lain, Indonesia juga terancam oleh serbuan barang impor.
Alhasil, dia menyatakan, negosiasi sempat terhenti, karena dari sisi pasar dinilai kurang potensial. Meski demikian, dalam perundingan FTA, neraca perdagangan bukanlah satu-satunya pertimbangan. Indonesia bisa mengambil manfaat dari sisi investasi, pemanfaatan sumber daya alam (SDA) maupun pertukaran teknologi.
"Misalnya dengan Australia, di mana negara itu memiliki SDA yang mungkin cukup banyak dibandingkan di Indonesia, misalnya raw sugar. Ini bisa dimanfaatkan industri mamin. Jadi kita impor produk itu dari luar, lalu kita bangun nilai tambahnya di dalam negeri. Kita harus melihat dunia ini untuk membangun nilai tambah dan kerja sama. Intinya, menciptakan nilai tambah lebih maksimal," kata Harjanto.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




