Penjualan Saham GIAA Bisa Tingkatkan Likuiditas
Selasa, 10 April 2012 | 17:21 WIB
Saat ini saham BUMN masih diminati investor lantaran kinerja emiten pelat merah dianggap lebih baik dibanding emiten swasta.
Penjualan saham perdana (Initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) di tiga penjamin emisi (underwriter) diharapkan dapat memperbaiki kinerja saham maskapai pelat merah tersebut.
Pasalnya, saham akan menjadi lebih likuid dan kepemilikannya lebih merata.
“Ya meski tidak ada hubungannya dengan kami (BEI), kami berharap hal tersebut berdampak positif terhadap kinerja saham perseroan,” kata Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito, di Jakarta, hari ini.
Eddy optimis, kinerja saham aviasi tersebut menjadi likuid mengingat perseroan merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Sangat berpotensi mengingat sebagian besar sahamnya dimiliki negara,” ujarnya.
Menurut Eddy, saat ini saham BUMN masih diminati investor lantaran kinerja emiten pelat merah dianggap lebih baik dibanding emiten swasta.
Dengan dilepas ke investor strategis, maka saham Garuda tidak lagi terkonsentrasi ke tiga underwriter. "Kepemilikan sahamnya makin merata. Ini jelas berdampak bagus terhadap pasar di lantai perdagangan," tuturnya.
Paska IPO), tiga sekuritas BUMN yakni PT Danareksa Securities, PT Mandiri Securities, dan PT Bahana Securities masih memegang 2,46 lembar saham Garuda atau setara 10,88 persen. Sebagai penjamin emisi, ketiganya harus menyerap sisa saham IPO Garuda yang tidak laku di pasar.
Sejumlah pengusaha seperti Bakrie Group, Chairul Tanjung, Rachmat Gobel, dan Sandiaga Uno dikabarkan akan mengkaji penawaran saham BUMN aviasi tersebut.
Penjualan saham perdana (Initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) di tiga penjamin emisi (underwriter) diharapkan dapat memperbaiki kinerja saham maskapai pelat merah tersebut.
Pasalnya, saham akan menjadi lebih likuid dan kepemilikannya lebih merata.
“Ya meski tidak ada hubungannya dengan kami (BEI), kami berharap hal tersebut berdampak positif terhadap kinerja saham perseroan,” kata Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito, di Jakarta, hari ini.
Eddy optimis, kinerja saham aviasi tersebut menjadi likuid mengingat perseroan merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Sangat berpotensi mengingat sebagian besar sahamnya dimiliki negara,” ujarnya.
Menurut Eddy, saat ini saham BUMN masih diminati investor lantaran kinerja emiten pelat merah dianggap lebih baik dibanding emiten swasta.
Dengan dilepas ke investor strategis, maka saham Garuda tidak lagi terkonsentrasi ke tiga underwriter. "Kepemilikan sahamnya makin merata. Ini jelas berdampak bagus terhadap pasar di lantai perdagangan," tuturnya.
Paska IPO), tiga sekuritas BUMN yakni PT Danareksa Securities, PT Mandiri Securities, dan PT Bahana Securities masih memegang 2,46 lembar saham Garuda atau setara 10,88 persen. Sebagai penjamin emisi, ketiganya harus menyerap sisa saham IPO Garuda yang tidak laku di pasar.
Sejumlah pengusaha seperti Bakrie Group, Chairul Tanjung, Rachmat Gobel, dan Sandiaga Uno dikabarkan akan mengkaji penawaran saham BUMN aviasi tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




