ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pabrik Smelting di Gresik Kembali Beroperasi

Minggu, 19 Maret 2017 | 18:16 WIB
AA
FH
Penulis: Amrozi Amenan | Editor: FER
Pekerja beraktivitas di kawasan pabrik PT Smelting, Gresik, Jawa Timur, 17 Maret 2017.
Pekerja beraktivitas di kawasan pabrik PT Smelting, Gresik, Jawa Timur, 17 Maret 2017. (Antara/Zabur Karuru)

Gresik - Setelah sempat berhenti beroperasi selama dua bulan karena ada masalah dengan karyawan, pabrik PT Smelting di Gresik, Jawa Timur (Jatim), kembali menjalankan kegiatan bisnisnya. Produsen katoda tembaga ini bertekad mengoptimalkan kapasitas produksi pabrik dari sekarang 85 persen menjadi 100 persen.

Presiden Direktur PT Smelting, Hiroshi Kondo menyatakan saat ini hampir 60 persen dari total produksi katoda tembaga PT Smelting diekspor ke luar negeri, sementara 40 persen dipasarkan di dalam negeri.

Selain itu, lanjut Kondo, produk sampingan lainnya yang dihasilkan seperti asam sulfat dan terak tembaga (cooper slag) juga dimanfaatkan industri dalam negeri. Asam sulfat diserap perusahaan pupuk (PT Petrokimia Gresik) dan terak tembaga digunakan pabrik semen di Indonesia.

"Terhentinya produksi kami selama dua bulan tentunya ikut mempengaruhi kinerja ekonomi dan neraca perdagangan Jatim. Untuk itu, kami juga ingin memohon maaf kepada semua pihak. Sungguh peristiwa itu sangat tidak kami harapkan," kata Kondo di Gresik, Jumat (17/3).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Plant Manager PT Smelting, Antonius Prayoga, mengungkapkan, ada dua pabrik yang berhenti beroperasi sejak 19 Januari 2017 lalu karena kekurangan tenaga kerja, yaitu pabrik peleburan (smelter) dan pabrik Asam Sulfat (acid plant).

"Sedangkan pabrik pemurnian (refinery) tetap beroperasi meskipun dengan kapasitas produksi hanya 50 persen dan itupun untuk memanfaatkan stok katoda yang ada. Karena itu, kami juga tetap bisa mengirimkan produk katoda tembaga ke pelangan," ujarnya.

Antonius menambahkan, berbagai produk yang dihasilkan Smelting selama ini telah dimanfaatkan industri di dalam negeri. Seperti produk anoda tembaga dengan nama dagang Gresik Copper Cathode dalam kategori LME kelas A dapat digunakan untuk bahan baku kawat, kabel dan tube.

"Produksinya mencapai 200.000 sampai 300.000 ton per tahun. Sedangkan produk samping lainnya seperti asam sulfat digunakan untuk bahan baku pupuk dengan jumlah produksi sekitar 592.000 sampai 920.000 ton per tahun," papar Antonius.

Adapun lumpur anoda, lanjut Antonius, dapat digunakan sebagai bahan pemurnian emas dan perak dengan jumlah produksi sekitar 480.000 hingga 1.800 ton per tahun. Begitu pula, produk tembaga telurida dipakai untuk permurnian telurida dengan jumlah poduksi sebanyak 30-40 ton per tahun. Lalu, terak tembaga dipakai untuk bahan baku semen, beton cor dengan kapasitas produksi 382.000 sampai 655.000 ton per tahun. Terakhir, gipsum untuk bahan semen dengan produksi mencapai 31.000 ton sampai 35.000 ton per tahun.

"Jadi, semua produk kami diserap industri dalam negeri," terang Antonius.

Sejauh ini, lanjut dia, Smelting memperoleh pasokan bahan baku berupa konsentrat tembaga dengan kandungan 99, 1 persen atau hampir murni dari PT Freeport. "Butuh waktu 4 sampai 5 hari untuk pengapalan dari PT Freeport untuk sampai ke Gresik," katanya.

Antonius menyatakan, dengan kebutuhan pasar dalam negeri terhadap produk-produknya Smelting memang ingin meningkatkan kapasitas produksinya. Untuk itu, lanjut dia, saat ini perusahaan masih terbentur ketersediaan lahan untuk pengembangan.

"Saat ini, yang bisa dilakukan perusahaan adalah mengoptimalkan kapasitas produksi, dari sekarang 85 persen menjadi 100 persen. Sempat satu bulan lebih berhenti beroperasi dan pekerjanya juga baru, jadi butuh tahapan proses untuk mencapai produksi 100 persen," pungkasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon