ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perundingan CEPA Indonesia-EFTA Rampung Tahun Ini

Rabu, 29 Maret 2017 | 20:23 WIB
EF
B
Penulis: Eva Fitriani | Editor: B1
Ilustrasi.
Ilustrasi. (Antara)

Jakarta - Perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dan European Free Trade Association (EFTA) diyakini dapat selesai tahun ini, sesuai dengan target pemerintah. Saat ini, perundingan kerja sama antara Indonesia dan EFTA yang beranggotakan empat negara, yaitu Swiss, Liechtenstein, Islandia, dan Norwegia tersebut, memasuki putaran ke-12.

"Optimisme perundingan dapat diselesaikan tahun ini didorong adanya kemajuan yang dicapai pada pembahasan beberapa isu strategis yang sempat menjadi penghambat negosiasi (stumbling block) selama ini. Kami meyakini penyelesaian yang cepat akan memberi manfaat bagi Indonesia," kata Duta Besar Soemadi DM Brotodiningrat, Rabu (29/3). Soemadi akan memimpin Delegasi Indonesia pada perundingan putaran ke-12 tersebut yang diselenggarakan pada 28-31 Maret 2017 di Jenewa, Swiss.

Soemadi menjelaskan, penyelesaian Indonesia-EFTA CEPA yang dicapai melalui perundingan kali ini merupakan upaya membuka akses pasar yang lebih luas, mendorong ekspor, dan menarik investasi dari kawasan Eropa, terutama dari negara-negara anggota EFTA. Pasar EFTA yang terintegrasi dengan Uni Eropa via European Economic Area (EEA) dan Swiss-European Union Bilateral Agreement, juga berpotensi untuk dijadikan pintu masuk produk ekspor Indonesia untuk masuk ke pasar Uni Eropa.

"Kedua belah pihak optimis proses perundingan dapat diselesaikan tahun ini sesuai target yang dicanangkan Pemerintah," tegas dia.

ADVERTISEMENT

Pada putaran ke-12 ini, menurut Soemadi, kedua pihak melanjutkan pembahasan isu-isu di bidang perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, kekayaan intelektual, kerja sama dan pengembangan kapasitas, serta perdagangan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan sekaligus Wakil Ketua Perundingan Indonesia-EFTA CEPA Made Marthini, juga menekankan percepatan perundingan diperlukan untuk menjaga daya saing.

"EFTA telah menyelesaikan CEPA dengan negara-negara di kawasan ASEAN seperti Vietnam dan Filipina untuk mempertahankan daya saing produk mereka di kawasan Eropa melalui negara-negara EFTA. Oleh karena itu, Indonesia perlu mempercepat penyelesaian perundingan agar tidak kalah bersaing di kawasan Eropa," ujar dia.

Pada putaran ke-12 ini, juru bicara pihak EFTA ialah Duta Besar Markus Schlagenhof. Pertemuan ini merupakan kelanjutan perundingan sebelumnya yang diselenggarakan pada 27-30 September 2016 di Bandung, Indonesia.

EFTA yang didirikan pada 3 Mei 1960 adalah asosiasi perdagangan bebas yang beranggotakan 4 negara, yaitu Swiss, Liechtenstein, Islandia, dan Norwegia. Pada 7 Juli 2010 Perundingan Indonesia-EFTA CEPA diluncurkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Swiss Doris

Leuthard (mewakili EFTA) berdasarkan prinsip-prinsip komprehensif, saling menghargai (mutual respect), semangat yang konstruktif (constructive spirit), kesetaraan kedaulatan (sovereign equality), dan saling menguntungkan (common benefit) dengan pengakuan pada perbedaan tingkat pembangunan kedua pihak.

Setelah berlangsung selama 9 putaran, perundingan dihentikan sementara pada 2014 karena proses pergantian pemerintahan di Indonesia. Pada 2016, Indonesia dan Swiss sepakat melanjutkan perundingan dan menargetkan penyelesaian perundingan pada 2017. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon