IMF Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Global 3,9%
Rabu, 18 April 2018 | 13:24 WIB
Washington - Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (17/4) waktu Amerika Serikat atau Rabu WIB (18/4) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2018 sebesar 3,9 persen, atau sama dari proyeksi sebelumnya. Namun IMF memperingatkan bahwa potensi perang dagang mengancam pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam "World Economic Outlook", IMF mengatakan ekonomi global akan tumbuh 3,9 persen pada 2018 dan 2019, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya pada Januari. "Pemulihan global didukung momentum kuat, sentimen pasar yang menguntungkan, kondisi keuangan yang akomodatif, serta dampak domestik dan internasional dari kebijakan fiskal ekspansif di Amerika Serikat," kata IMF sebagaimana dikutip Xinhua.
Penasihat ekonomi dan direktur penelitian di IMF, Maurice Obstfeld, mengatakan bahwa ekonomi dunia terus menunjukkan momentum berbasis luas. Namun potensi ini dibayangi konflik atas perdagangan yang merugikan. "Prospek pembatasan perdagangan akan mengancam dan merusak kepercayaan serta menggagalkan pertumbuhan global sebelum waktunya," kata Obstfeld dalam konferensi pers.
IMF mengatakan, perekonomian utama memainkan perang dagang saat ekspansi ekonomi meluas, terutama ketika ekspansi sangat bergantung pada investasi dan perdagangan.
Obstfeld menyerukan sengketa bisa diselesaikan dalam kerangka multilateral berbasis aturan yang kuat. "Ada ruang untuk memperkuat sistem saat ini daripada risiko fragmentasi bilateral perdagangan internasional," katanya.
Dia menambahkan bahwa kerja sama multilateral tetap penting untuk mengatasi berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim, penyakit menular, keamanan siber dan tata kelola perdagangan dunia. "Saling ketergantungan global hanya akan terus tumbuh, dalam semangat kolaborasi, bukan konflik," katanya.
Meskipun Amerika Serikat terlibat dalam beberapa negosiasi bilateral untuk mengurangi defisit perdagangan dengan mitranya, Obstfeld percaya bahwa inisiatif ini tidak akan banyak mengubah defisit transaksi berjalan eksternal AS. "Defisit transaksi berjalan eksternal AS secara keseluruhan bergantung pada belanja yang terus melebihi pendapatan," katanya.
Dia menambahkan bahwa pemotongan pajak AS baru-baru ini dan peningkatan belanja pemerintah akan benar-benar memperluas defisit transaksi berjalan AS. "Dibandingkan proyeksi kami Oktober 2017 sebelum perubahan pajak dan pembelanjaan AS baru-baru ini, sekarang kami memperkirakan defisit transaksi berjalan Amerika Serikat untuk 2019 menjadi sekitar US$ 150 miliar lebih tinggi," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




