ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mengukur Kadar CEO Karir dan Eksternal

Sabtu, 26 Mei 2012 | 08:58 WIB
FB
B
Penulis: Forbes/ Whisnu Bagus | Editor: B1
Ilustrasi uang dollar
Ilustrasi uang dollar (Antara)
Booz & Co merilis studi tahunan ke 12 tentang pergantian Chief Executive Officer (CEO).

Tulisan ini membahas soal kepemimpinan CEO sebuah perusahaan yang berasal dari internal atau eksternal.

Bulan lalu, studi profesor Wharton, Matius Bidwell menyatakan, karyawan yang direkrut dari eksternal biasanya dibayar lebih tinggi dibanding karyawan internal yang dipromosikan.

Namun pada dua tahun pertama, performa karyawan eksternal lebih rendah, bahkan layak diberhentikan dari karyawan internal yang dipromosikan. Perusahaan konsultan, Booz & Co merilis studi tahunan ke 12 tentang pergantian Chief Executive Officer (CEO) juga menunjukkan temuan yang sama.

Penelitian Booz melaporkan, pada periode 2009-2011, sebanyak 35 persen perusahaan mendepak CEO-nya yang direkrut dari eksternal. Angka ini jauh di atas CEO yang dididik dari internal perusahaan sebesar 19 persen.

Selain itu, CEO internal biasanya bertahan lebih lama dibanding CEO yang didatangkan dari luar. Rata-rata bisa mencapai lima tahun dibanding empat tahun. "Perusahaan menyadari akan mendapat keuntungan jika mempekerjakan orang dalam. "Empat dari lima CEO harus keluar dari perusahaan," kata studi tersebut seperti dikutip Forbes, Jumat (25/5).

Studi Booz, salah satu dari 2.500 perusahaan terbesar di dunia juga menyatakan, CEO yang berasal dari internal berdampak positif pada harga saham perusahaan. Kenaikannya mencapai 4,4 persen, semenatra perusahaan yang mendatangkan CEO dari luar hanya menaikkan saham 0,5 persen. 

Studi ini juga menyebutkan, waktu penyesuaian yang dibutuhkan CEO eksternal dan CEO  internal juga berbeda. CEO internal cenderung lebih cepat merespons perubahan-perubahan yang terjadi di perusahaan tersebut. Sementara eksternal kurang menguasai medan.

Temuan lain penelitian Booz menyatakan, seiring mulai stabilnya perekonomian paska resesi, pada 2011 sebanyak 14,2 persen perusahaan mengganti CEO mereka, naik dari 11,6 persen pada tahun 2010. Selain itu, jajaran dewan direksi juga berperan lebih aktif mendorong kepemimpinan. Hal ini berbanding terbalik pada masa krisis 2008 lalu dimana direksi lebih banyak bertahan agar lolos dari kebangkrutan. 

Penelitan juga menyebutkan, tekanan pemegang saham yang menjadi catatan CEO telah turun menjadi hanya 18 persen, dibandingkan 40 persen saat studi Booz pertama kali dimulai pada tahun 2000.

Untuk pertama kalinya, dalam studi Booz kali ini membandingkan tingkat keluar atau masuknya CEO di perusahaan kecil dengan perusahaan besar. Tidak mengherankan, 250 perusahaan terbesar banyak mengganti CEO-nya dibanding perusahaan kecil.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon