ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Fondasi Ekonomi Indonesia Kuat pada Koperasi

Jumat, 7 September 2018 | 22:29 WIB
SH
B
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: B1
Pengrajin menggiling kedelai impor sebelum diolah menjadi tempe di gudang Koperasi Pengrajin Tahu Tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, 5 September 2018. Naiknya harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebu membuat pengrajin tempe setempat mengurangi penggunaan kedelai impor sebagai bahan produksi yakni dari 40 kilogram menjadi 20 kilogram per hari.
Pengrajin menggiling kedelai impor sebelum diolah menjadi tempe di gudang Koperasi Pengrajin Tahu Tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, 5 September 2018. Naiknya harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebu membuat pengrajin tempe setempat mengurangi penggunaan kedelai impor sebagai bahan produksi yakni dari 40 kilogram menjadi 20 kilogram per hari. (Antara/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Puspayoga mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan gonjang-ganjing nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS. Pelemahan rupiah tidak akan membuat Indonesia mengalami krisis ekonomi seperti yang terjadi tahun 1998.

Puspayoga mengatakan, ketidakpastian ekonomi saat ini disebabkan tekanan ekonomi global bukan masalah fundamental ekonomi bangsa. Waktu itu tahun 1998 pertumbuhan ekonomi hingga 13%, kredit macet 30% sedangkan sekarang pertumbuhan mencapai 5,27% dan inflasi < 4%.

"Ekonomi Indonesia tidak jelek, apalagi fondasi ekonomi di tangan koperasi dengan jumlah anggotanya 25 juta orang itu sangat luar biasa," kata Puspayoga dalam orasi ilmiah di Kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta, Jumat (7/9). Hadir Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa, Sri Edi Swasono dan Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Pardimin.

Puspayoga menekankan, koperasi dengan UKM merupakan unit usaha yang tangguh dan sudah terbukti pada krisis ekonomi tahun 1998. Sebab, koperasi dan UKM membangun usaha dengan sumber daya yang berasal dari dalam negeri.

ADVERTISEMENT

"Jangan khawatir fondasi ekonomi Indonesia ada di koperasi yang tidak tergantung pada impor, yang kena itu kan yang impor," lanjut Puspayoga.

Menurut Puspayoga, kepercayaan terhadap koperasi sangat diperlukan. Saat ini kepercayaan terhadap koperasi sangat tinggi, dan ini harus terus dipertahankan dengan menumbuhkan koperasi-koperasi berkualitas.

Puspayoga menyampaikan, koperasi merupakan bentuk nyata dari sistem ekonomi Indonesia yang tidak ternilai harganya. Koperasi berazaskan kekeluargaan telah menjadi solusi bagi persoalan ekonomi masyarakat kalangan bawah.

"Kita dulu sering mendengar apa pun kebutuhannya lari ke koperasi. Ibu-ibu butuh pinjaman uang untuk biaya sekolah anaknya datang ke koperasi. Ini tidak bisa dihitung," kata Puspayoga.

Dalam koperasi, prinsip daya saing bukan free fight liberalism, tapi sinergi dan kekeluargaan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Puspayo memaparkan kepada civitas akademika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa bahwa kebijakan pembangunan koperasi di Tanah Air melalui Reformasi Total Koperasi. Kebijakan ini membawa paradigma baru pada dunia koperasi, yakni peningkatan kualitas bukan kuantitas.

Melalui langkah reorientasi, rehabilitasi dan pengembangan, koperasi di Indonesia mengalami banyak perubahan mula dari perbaikan data base dan memberikan kemudahan bagi koperasi melalui penyederhanaan regulasi. PDB koperasi naik dari 1,71% tahun 2014 menjadi 4,48% tahun 2017.

Dalam memberikan dukungan dan keadilan bagi koperasi dan UKM, pemerintah juga menurunkan bunga KUR dari 22% menjadi 7% serta menurunkan pajak UKM jadi 0,5%.

Sri Edi Swasono mengapresiasi kinerja pemerintah terutama dalan menurunkan bunga KUR. Ia mengungkapkan penurunan bunga KUR adalah salah satu perjuangan yang sering disampaikan sejak dulu untuk memberi keadilan bagi usaha kecil.

Sebab, ia mengatakan usaha kecil merupakan bagian dari usaha koperasi. Karena itu, koperasi jangan dilihat hanya sekadar badan usaha yang dihitung dengan capaian PDB, namun lebih dari itu sebagai kekuatan sinergi.

"Nilai koperasi tidak hanya semata nilai materi tapi ada nilai non materi. Ini tidak bisa dihitung," tegas Sri Edi.

Senada dengan Puspayoga, Sri Edi juga mengatakan nilai sinergi, kebersamaan dalam koperasi menekankan pentingnya masyarakat saling tolong-menolong dan bekerja sama.

Oleh karena itu, Bung Hatta mengangkat dalam konstitusi istilah kebersamaan dan asas kekeluargaan dalam pasal 33 ayat 1 UUD 1945.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pemerintah Siapkan Inpres Operasional Kopdes Merah Putih

Pemerintah Siapkan Inpres Operasional Kopdes Merah Putih

EKONOMI
Menkop Gandeng K/L Bangun Super Tim untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Koperasi

Menkop Gandeng K/L Bangun Super Tim untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Koperasi

EKONOMI
Ada 7.000 Koperasi Desa Merah Putih Siap Beroperasi

Ada 7.000 Koperasi Desa Merah Putih Siap Beroperasi

EKONOMI
Menkop: Bung Hatta Tersenyum Melihat Koperasi Indonesia

Menkop: Bung Hatta Tersenyum Melihat Koperasi Indonesia

EKONOMI
Meutya Hafid: Pesantren Jadi Penggerak Ekosistem Koperasi

Meutya Hafid: Pesantren Jadi Penggerak Ekosistem Koperasi

OTOTEKNO
Menkop: Koperasi Merah Putih Jadi Motor Ekonomi NTT

Menkop: Koperasi Merah Putih Jadi Motor Ekonomi NTT

NUSANTARA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon