Indonesia dan Cheska Genjot Investasi di Sektor Industri
Senin, 17 September 2018 | 20:58 WIBJakarta - Indonesia dan Republik Cheska tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi, khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara ini akan dilakukan melalui upaya peningkatan investasi dan ekspor, sehingga diharapkan dapat memperkuat struktur manufaktur dan memperbaiki neraca perdagangan nasional.
"Kami mengharapkan dukungan Cheska dalam upaya mempercepat negosiasi comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Uni Eropa. Sebelumnya, Presiden Jokowi dan PM Australia telah melakukan finalisasi Indonesia-Australia CEPA," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Ketua Senat Republik Cheska, Milan Stech di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (17/9).
Menperin meyakini, apabila kerangka kemitraan bilateral yang komprehensif tersebut terjalin, bakal mendongkrak ekspor produk Indonesia yang signifikan ke Cheska.
"Beberapa produk manufaktur kita yang punya potensi menembus pasar Cheska, antara lain tekstil dan pakaian, alas kaki, furnitur berbasis kayu, serta pulp dan kertas," sebutnya.
Menperin menyampaikan, pihaknya berupaya menarik investor Cheska untuk menanam modalnya di Indonesia pada sektor industri pengolahan karet. Hal ini sejalan dengan potensi Indonesia termasuk dalam jajaran produsen crumb rubber (karet remah) terbesar di dunia. Sementara itu, Cheska punya industri pengolahan karet yang cukup berdaya saing seperti pabrik ban.
Di samping itu, lanjut Airlangga, Indonesia memiliki industri kereta api yang sudah mampu memproduksi berbagai komponen dan infrastruktur perkeretaapian. Misalnya, rolling stock, trek rel, hingga sistem persinyalan. Ini menjadi peluang kolaborasi di kedua negara untuk saling transfer teknologi.
"Indonesia dapat dijadikan basis pengembangan industri kereta api. Sejumlah negara seperti Australia, Bangladesh, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka telah memesan dan mengimpor kereta api dari Indonesia," paparnya.
Apalagi, Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur transportasi guna memperkuat konektivitas termasuk di dalamnya pembuatan kereta api, mass rapid transit (MRT), dan light rail transit (LRT) yang memerlukan teknologi perkeretaapian yang maju.
"Cheska sebagai salah satu negara yang punya teknologi canggih tersebut," ujarnya.
Sektor lainnya yang juga dijajaki untuk bisa dikerjasamakan kedua negara, yakni industri farmasi. "Saat ini, Indonesia termasuk negara yang memiliki program jaminan kesehatan terbesar. Selain itu, industri farmasi Indonesia tengah memulai pengembangan lebih lanjutnya," imbuh Airlangga.
Peluang investasi selanjutnya, demikian menperin, ada di teknologi minihydro, yang merupakan bagian dari penyediaan energi terbarukan di remote area dan merupakan peluang yang siap digarap di Indonesia.
Untuk memberikan keyakinan kepada para pelaku industri Cheska, Airlangga menegaskan Pemerintah Indonesia berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif. Hal ini seiring dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 dalam menyiapkan strategi dan arah yang jelas untuk memasuki era revolusi industri geneasi keempat.
Salah satu program strategisnya adalah memberikan insentif fiskal. "Nantinya ada insentif untuk inovasi hingga 20 tahun serta skema tax allowance untuk inovasi hingga 200%. Ini tentu sangat membantu industri yang berproduksi untuk pasar dalam negeri maupun untuk Asean Community," jelasnya.
Peluang
Pada kesempatan yang sama, Milan Stech menuturkan beberapa peluang kerja sama industri tersebut sangat menarik dikembangkan Cheska. "Kami punya anggota Kadin mencapai 15.000 dari berbagai sektor usaha," ucapnya.
Stech pun menyebutkan, Cheska telah memiliki beberapa sektor manufaktur unggulan di kancah global, seperti industri otomotif, pesawat terbang, dan logistik.
"Kami juga sudah memproduksi kereta dengan kecepatan 200 km/jam yang berkualitas dengan harga yang terjangkau," ungkapnya.
Cheska, menurut Stech, juga memiliki industri komponen medis dan farmasi. Cheska juga telah menerapkan teknologi canggih di bidang hidroenergi yang produknya sudah diekspor.
Menurut catatan Kementerian Perindustrian, pada 2017, total transaksi perdagangan Indonesia-Cheska mencapai US$ 265,68 juta atau mengalami peningkatan sebesar 12 persen dibanding lima tahun sebelumnya. Sementara itu, selama tahun 2010-2015, total nilai investasi Cheska di Indonesia mencapai US$ 34,35 juta, sedangkan pada 2016-2017, investasi Ceko di sektor manufaktur mencapai US$ 499,5 juta untuk tiga proyek, yakni industri logam dasar, barang logam, serta mesin dan elektronika..
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




