ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dukung Stabilisasi Rupiah, Pengusaha di Jatim Kompak Lepas Dolar

Kamis, 20 September 2018 | 23:29 WIB
AA
FH
Penulis: Amrozi Amenan | Editor: FER
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kanan), Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah Jatim, Difi Ahmad Johansyah (tengah), dan Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jawa Timur Nur Cahyudi, menunjukkan secara simbolis uang senilai US$ 50 juta yang dijual pengusaha Jatim yang tergabung dalam Forkas, di Surabaya, Kamis (20/9/2018) malam. Kegiatan itu dilakukan dalam rangka membantu memperkuat nilai tukar rupiah.
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kanan), Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah Jatim, Difi Ahmad Johansyah (tengah), dan Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jawa Timur Nur Cahyudi, menunjukkan secara simbolis uang senilai US$ 50 juta yang dijual pengusaha Jatim yang tergabung dalam Forkas, di Surabaya, Kamis (20/9/2018) malam. Kegiatan itu dilakukan dalam rangka membantu memperkuat nilai tukar rupiah. (Istimewa)

Surabaya - Para pengusaha di Jawa Timur (Jatim) menggelar aksi dukungan terhadap upaya stabilisasi rupiah. Mereka menukarkan simpanan uang sebanyak US$ 50 juta, yang ditukarkan dengan rupiah.

Aksi pengusaha yang tergabung dalam Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha Jawa Timur (Forkas) itu dikemas dalam kegiatan "Bersatu Menguatkan Rupiah" di Hotel Majapahit, Surabaya, Kamis (20/9) malam, dan dihadiri pula oleh Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn) Moeldoko.

Moeldoko menyatakan, pihaknya merasa bangga dengan aksi para pengusaha sebagai upaya kongkret untuk menunjukkan patriotik yang sejati kepada bangsa. Pemerintah sudah melakukan semaksimal mungkin untuk pembangunan ini agar investasi bisa masuk dengan cepat di Indonesia.

"Kita tidak perlu bicara macam-macam yang penting sekarang aksinya. Saya hormat kepada para pengusaha ini. Pemerintah mengapresiasinya. Saya berharap upaya pengusaha Jatim ini akan menginspirasi yang lainnya, sebab sangat positif, serta bisa mendorong nilai dolar agar bisa stabil kembali, atau bisa turunkan lagi melalui gerakan ini," kata Moeldoko.

ADVERTISEMENT

Meoldoeko mengatakan, pihaknya meminta kepada semua masyarakat agar tidak mencari-cari alasan kenaikan dolar yang disebabkan faktor luar. "Sebab, Indonesia adalah bagian dari dunia global yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh negara lain termasuk pengaruh perang dagang. Semuanya pasti terpengaruh," tandasnya.

Lebih lanjut, Moeldoko mengatakan, pihaknya juga meminta pengusaha agar tidak perlu takut dengan kondisi sekarang dan berbondong-bondong memesan tiket ke luar negeri, apalagi menyongsong berlangsungnya pesta demokrasi. Karena pemerintah pasti menjamin pesta demokrasi berlangsung aman. Pemerintah juga sudah membuktikan dengan menggelar 171 pemilihan kepala daerah serentak yang berjalan baik, serta tidak ada situasi berdarah-darah.

"Pemerintah siap menjamin dan mengelola isu-isu strategis serta memberikan solusi kepada investor melakukan investasi," katanya.

Sementara Ketua Forkas Jatim, Nur Cahyudi, mengatakan, aksi ini adalah bentuk komitmen para pengusaha agar rupiah bisa kembali stabil.

"Mereka juga terkena dampak dari kenaikan nilai tukar, terutama pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor. Kita tidak ingin semua ini menjadi berlarut-larut. Karenanya kita bergandengan tangan untuk lepas dolar," kata Nur Cahyudi.

Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Wilayah Jatim, Difi Ahmad Johansyah, mengatakan, langkah positif pengusaha untuk mengembalikan nilai tukar rupiah diibaratkan seperti langkah Bulog menggelontor beras ke pasar ketika harga beras mahal. "Ketika dolar mahal, kita harus gelontor itu ke pasar," katanya.

Difi menambahkan, BI memang memiliki tugas untuk mengatur volume dolar dan rupiah di pasaran dan selama ini ketergantungan Indonesia terhadap mata uang dolar memang sangat tinggi. Padahal neraca perdagangan Indonesia-Amerika tidak lebih 14 persen dalam setahun. Karena itu, saat ini, Indonesia mencoba untuk mencari alternatif mata uang untuk perdagangan antar negara.

"Di Asean kita sudah mulai membahas itu. Dengan Malaysia kita coba pakai ringgit, begitu juga dengan Thailand menggunakan baht," tandasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon