Ekspor Biofarmaka Prospektif untuk Herbal
Rabu, 12 Desember 2018 | 06:49 WIB
Jakarta - Prospek bisnis biofarmaka atau tanaman obat bakal menjadi primadona bagi generasi milenial. Selain untuk obat herbal, juga menjadi peluang bisnis ekspor yang menjanjikan.
"Biofarmaka ini ada 14 komoditas jenis rimpang yakni jahe, kunyit, lengkuas, lempuyang, temu lawak, temu kunci, temu ireng dan dlingo yang sangat diminati dan pasarnya bagus. Permintaan ekspor jahe dan kunyit sangat tinggi. Masih ada lagi 52 komoditas jenis nonrimpang, seperti kapulaga, mengkudu, sambiloto, mahkota dewa, lidah buaya, dan lainnya," kata Suwandi saat memberikan kuliah umum kepada 175 lebih mahasiswa dan civitas akademik Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta-Magelang, Selasa (11/12).
Dikatakan, minat generasi muda sangat tinggi di beberapa daerah sejalan dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Di Polbangtan Yogyakarta saja, sudah tercatat 35 mahasiswa yang dalam program studi agribisnis biofarmaka.
"Petani biofarmaka di banyak daerah sangat senang karena permintaan pasar tinggi," ujarnya melalui keterangan tertulis.
Di sisi lain, Suwandi menekankan transformasi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang merubah STPP menjadi Polbangtan guna mendorong generasi muda berbisnis pertanian termasuk biofarmaka. Apalagi, seluruh aktivitas usaha biofarmaka mulai hulu hingga hilir sangat menantang untuk dikembangkan.
Suwandi menjelaskan pada 2018, ekspor tanaman obat seperti jahe mencapai 2.000 ton, saffron 1.000 ton, turmeric 7.000 ton, kapulaga 6.000 ton dan tanaman biofarmaka lainnya 1.000 ton. Selama ini bisnis biofarmaka lebih maju seiring berkembangkan industri herbal dan gaya hidup back to nature.
"Produk tanaman obat ini sebagai pemasok untuk industri herbal, rumah sakit, salon kecantikan, bahan kosmetik, spa dan lainnya," ungkapnya.
Direktur Polbangtan Yogyakarta-Magelang Rajiman mengatakan tahun ini pihaknya menerima 175 mahasiswa yang bakal mendapatkan lebih banyak praktik, kemampuan manajerial, disiplin dan leadership.
"Mereka dididik ketat dan masuk asrama, tidur jam 11 malam dan bangun jam 3. Pada hari tertentu wajib berbahasa inggris dan juga rutin ada materi keagamaan. Bobot praktik 70 persen sehingga diharapkan nanti menjadi wirausaha yang tangguh dan berkelas dunia," kata dia.
Secara terpisah, Jati Kuswardono yang juga eksportir dari Yogyakarta mengatakan ekspor jahe gajah dan jahe emprit ke Bangladesh mencapai 300 ton per tahun. Pasokan diperoleh dari petani di Cianjur, Sukabumi, Banjarnegara, Ponorogo dengan harga jahe gajah di petani berkisar Rp 4.500 hingga 7.000 per kg dan jahe emprit Rp 9.000 hingga 12.000 per kg. Permintaan ekspor sangat tinggi, justru pasokan masih kurang dan kualitasnya perlu ditingkatkan lagi.
"Selain jahe, kita juga ekspor kentang granula ke Singapura, kemiri ke Tiongkok," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




