ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Defisit Neraca Perdagangan Terparah Sepanjang Sejarah RI

Rabu, 16 Januari 2019 | 19:19 WIB
LO
B
Penulis: Lona Olavia | Editor: B1
Ilustrasi ekspor-impor.
Ilustrasi ekspor-impor. (Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta- Sejak Indonesia Merdeka, bisa dikatakan baru pada tahun 2018 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit hingga menembus angka US$ 8,57 miliar, terbesar sepanjang sejarah.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, 2018 defisit perdagangan dari Oktober-Desember 2018 ditotal mencapai US$ 4,86 miliar. Defisit ini lebih tinggi dibanding kuartal III 2018 sebesar US$ 2,6 miliar. Artinya kinerja perdagangan pada akhir 2018 bukan semakin membaik tapi semakin memburuk. Ini disebabkan beberapa faktor utama.

Besarnya impor disemua kelompok sepanjang tahun 2018 berkontribusi terhadap pelebaran defisit perdagangan. Total impor naik 20,15%. Sementara Impor bahan baku naik 20,06% dipengaruhi oleh lonjakan impor untuk keperluan proyek infrastruktur Pemerintah. Bahkan di bulan Desember dimana biasanya permintaan bahan baku industri tidak optimal terpotong libur panjang justru impor besi baja masih mencatat pertumbuhan 4,96%. Besi baja impor dipastikan sebagian besar untuk kebutuhan proyek infrastruktur. "Artinya komitmen pemerintah untuk menunda proyek yang berkontribusi besar terhadap impor belum serius," katanya di Jakarta, Rabu (16/1).

Impor migas juga mencatat rekor sejarah US$ 29,8 miliar loncat US$ 5,5 miliar. Ketergantungan BBM impor semakin besar dikala produksi dalam negeri turun dan harga minyak mentah rata-rata US$ 70 per barel untk jenis brent. Kurs rupiah juga berkontribusi atas bengkaknya impor migas dari sisi nilai.

ADVERTISEMENT

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyatakan bahwa defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 merupakan rekor kinerja perdagangan terburuk sepanjang sejarah, lebih buruk dibanding defisit yang terjadi pada tahun 2013 yang mencapai US$ 4 miliar.

Ia menilai, buruknya kinerja perdagangan tahun 2018 didorong oleh dua sisi, yakni anjloknya pertumbuhan ekspor serta akselerasi impor yang tajam. Ekspor hanya tumbuh 6,7%, jauh di bawah tahun 2017 yang tumbuh sampai 16,2%. Sedangkan, impor mengalami akselerasi dari 15,7% pada 2017 menjadi 20,2% di tahun 2018.

Adapun faktor pendorong penting dari lonjakan defisit perdagangan di 2018 adalah pelebaran defisit di sektor migas yang mencapai US$ 12,4 miliar. Peningkatan harga minyak dunia hampir di sepanjang 2018 telah mendorong lonjakan impor minyak negara-negara net-importir minyak seperti Indonesia. Impor migas Indonesia melonjak dari US$ 24,3 miliar pada 2017 menjadi US$ 29,8 miliar 2018 atau tumbuh 22,6%.

"Idealnya saat harga minyak dunia meningkat, tidak hanya berdampak pada kenaikan impor minyak, tetapi juga pada peningkatan ekspor minyak. Uniknya, dampak kenaikan harga minyak terhadap peningkatan ekspor minyak jauh lebih kecil dibandingkan impor minyak," ujarnya.

Secara rinci, secara kumulatif, nilai ekspor tahunan Indonesia pada 2018 mencapai US$ 180,06 miliar atau meningkat 6,65% dibanding tahun 2017, sedangkan nilai impor tahun 2018 mencapai US$ 188,63 miliar atau meningkat 20,15% dibanding tahun 2017.

Adapun, selama setahun kemarin, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami defisit sebanyak sembilan kali, sedangkan surplus hanya sebanyak tiga kali, yaitu pada Maret, Juni, dan September.

Soal defisit, Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, sempat terjadi defisit pada tahun 1945, 1975 sebesar US$ 391 juta, dan terulang pada 2012 dengan nilai US$ 1,7 miliar, 2013 sebesar US$ 4,08 miliar, dan 2014 sebesar US$ 1,89 miliar. Namun, tiga tahun berikutnya Indonesia bisa bangkit dengan mengalami surplus neraca perdagangan sejak tahun 2015, dengan nilai surplus US$ 7,67 miliar dan tahun 2016 surplus US$ 9,53 miliar. Adapun surplus yang terbesar berdasarkan catatan BPS adalah sebesar US$ 39,73 miliar pada 2006.

"Defisit full year 2018 US$ 8,57 miliar, defisit 2012 US$ 1,7 miliar, 2013 US$ 4,08 miliar, sebelumnya pernah juga defisit tahun 1975 US$ 391 juta. Namun, ekspor impor Indonesia sejak 1945 terputus hingga 1975. Jadi, (defisit) ini yang terbesar," katanya.

Pemerintah dijelaskannya sudah menggulirkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan ekspor, seperti insentif untuk industri berorientasi ekspor, penyederhanaan perizinan, menurunkan biaya logistik, dan diversifikasi pasar. Selain itu, pemerintah juga berusaha mengendalikan impor dengan mengerem laju 1.147 komoditas konsumsi dan modal. Serta berupaya menerapkan mandatori biodiesel 20% (B20). "Namun yah namanya kebijakan kan tidak langsung terimplementasikan. Kita berharap kebijakan kedepan akan semakin bagus," ungkapnya. [O-2]



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon