ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bahana TCW Bidik Dana Kelolaan Rp 50 Triliun

Selasa, 29 Januari 2019 | 22:54 WIB
DK
FH
Penulis: Devie Kania | Editor: FER
President Director Bahana TCW Edward P. Lubis (kanan) berbincang dengan (ki-ka): Investment Strategic Director Bahana TCW Budi Hikmat berbincang dengan Marketing Director and Product Development PT Bahana TCW Investmen Management Rukmi Proborini, Research Director and Alternative Investement Soni Wibowo, saat acara Bahana TCW konservatif menyikapi pasar di tahun 2019, di Jakarta, Selasa (29/1).
President Director Bahana TCW Edward P. Lubis (kanan) berbincang dengan (ki-ka): Investment Strategic Director Bahana TCW Budi Hikmat berbincang dengan Marketing Director and Product Development PT Bahana TCW Investmen Management Rukmi Proborini, Research Director and Alternative Investement Soni Wibowo, saat acara Bahana TCW konservatif menyikapi pasar di tahun 2019, di Jakarta, Selasa (29/1). (David Gita Roza)

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bahana TCW Investment Management mengincar total dana kelolaan (assets under management/AUM) yang meliputi reksa dana dan kontrak pengelolaan dana (KPD) sebesar Rp 50 triliun. Target tersebut setara dengan kenaikan 4,23 persen dibandingkan realisasi AUM sebesar Rp 47,97 triliun pada 2018.

Presiden Direktur Bahana TCW Investment Management, Edward P Lubis menyatakan, pencapaian akhir 2018 tidak jauh berbeda dengan realisasi total AUM awal tahun yang sebesar Rp 48 triliun. Namun sebetulnya, perseroan sempat meraih kenaikan total AUM ke posisi Rp 52 triliun pada Maret 2018.

"Pada awal 2018 kami sempat mengincar target AUM Rp 50 triliun, tapi akhirnya pencapaian belum menyentuh angka tersebut. Sehingga, tahun ini perseroan berupaya mencoba lagi dengan target yang sama," ujar Edward di Jakarta, Selasa (29/1).

Lebih lanjut, Edward mengungkapkan, pada 2018 Bahana TCW Investment Management mencatatkan nilai subscription sebesar Rp 38,61 triliun dari investor reksa dana. Namun demikian, perseroan juga mendata nilai redemption investor sebesar Rp 38,25 triliun.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan kondisi tersebut, aliran dana kelolaan bersih yang masuk sepanjang tahun 2018 menjadi sebesar Rp 361 miliar. Terkait tren redemption maupun kondisi AUM yang belum sesuai dengan target pada 2018, menurut Edward, tidak terlepas dari kondisi pasar.

Sebab, pada 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat terdepreasiasi lebih dari 7 persen. Kemudian, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang pernah menyentuh rekor tertinggi 6.689 pun terkoreksi dan sempat mencapai kisaran 5.700. Sedangkan, pada 2018 investor asing yang juga sempat tercatat dalam posisi jual bersih (net sell) di instrumen surat utang negara (SUN), walau akhirnya kembali tercatat beli bersih (net buy).

Untuk mendorong pencapaian total AUM sebesar Rp 50 triliun pada akhir 2019, Edward mengakui, pihaknya akan melakukan penggantian sembilan produk reksa dana terproteksi yang akan jatuh tempo tahun ini. Adapun nilai dana kelolaan dari reksa dana yang jatuh tempo pada 2019 sekitar Rp 800 miliar. Kemudian, Bahana TCW Investment Management juga berencana menambah produk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT).

"Kemudian, kami memiliki rencana untuk merilis produk exchange traded fund (ETF) berbasis indeks," papar Edward

Untuk RDPT yang akan meluncur kisaran kuartal I ini, Edward akui, menggunakan aset dasar berupa surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN). Adapun perusahaan yang berkolaborasi dengan Bahana TCW Investment Management dan menjadi penerbit MTN berasal dari sektor manufaktur.

Sedangkan, sejauh ini perseroan masih berdiskusi dengan perusahaan di bidang infrastruktur untuk potensi penerbitan RDPT lainda 2019. Namun untuk aset dasarnya, menurut Edward, belum ada keputusan sehingga perseroan belum bisa menginformasikan lebih detil.

Di samping penambahan produk, Edward mengakui, pihaknya ingin lebih jauh mengembangan jalur pemasaran secara daring (online). Pasalnya, dari 29.000 investor reksa dana di Bahana TCW Investment Management, terdapat porsi 5.000 investor yang diraih dari jalur pemasaran online.

Pencapaian tersebut, tidak terlepas dari keputusan manajer investasi ini untuk berkolaborasi dengan e-Commerce, sekuritas yang aktif mengembangkan jalur pemasaran online, dan perusahaan financial technology (fintech). Adapun untuk royeksi tahun 2019, Edward berharap, jumlah investor dari jalur pemasaran online dapat tumbuh dua digit, yakni minimal 25 persen.

"Namun, kami pun sadar, perseroan perlu lebih aktif dalam hal program pemasaran yang cocok dengan bisnis online jika ingin meraih peningkatan investor dari jalur tersebut. Misalnya itu, perseroan mulai memperhatikan program payday atau seperti momen Hari Belanja Nasional (Harbolnas)," tutup Edward.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon