ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kompetensi Guru Lewat Magang Industri Ditargetkan Naik Jadi 2.000 Orang

Kamis, 7 Februari 2019 | 14:04 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Dirjen IKM, Kemperin, Gati Wibawaningsih.
Dirjen IKM, Kemperin, Gati Wibawaningsih. (istimewa)

Surabaya, Beritasatu.com - Kementerian Peridustrian (Kemperin) menargetkan pada tahun 2019 ditargetkan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan dan magang di industri sebanyak 2.000 orang.

"Selama tahun 2018, peningkatan kompetensi guru produktif melalui pelatihan teknis dan magang di industri sebanyak 1.941 guru," kata Dirjen Industri Kecil Menangah dan Aneka Kemperin, Gati Wibawaningsih pada peluncuran program vokasi tahap ke-8 di Kawasan lndustri Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), yang dihadiri Beritasatu.com, Kamis (7/2).

Perinciannya, kata dia, pelatihan di Institute of Technical Education (ITE) Singapura sebanyak 100 orang, pelatihan di Taiwan Formosa Training Center bidang Machine Tools sebanyak 100 orang. "Selain itu, pelatihan teknis dan magang di industri sebanyak 1.741 orang," kata Gati.

Menurut Gati, sejak program pendidikan vokasi industri diluncurkan tahun 2017, hingga kini telah dilakukan penyelarasan kurikulum dan penyusunan modul pembelajaran sesuai kebutuhan industri sebanyak 34 kompetensi keahlian.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan hasil monitoring program pendidikan vokasi industri pada tahun 2018, sebanyak 92,86 persen SMK responden telah melakukan penyelarasan kurikulum, namun hanya 64,74 persen SMK yang telah menerapkan kurikulum hasil penyelarasan, dikarenakan masih adanya kendala dalam pengaturan waktu.

Sebanyak 47,15 persen SMK responden telah menggunakan modul hasil penyelarasan, namun hanya 44,29 persen yang menerapkan modul dengan pemahaman yang benar. "Selain itu, sebanyak 51,43 persen SMK responden belum dapat memenuhi kebutuhan peralatan sesuai standar minimum," kata Gati.

Untuk SMK yang telah menerima bantuan peralatan, gati menjelaskan, hanya 37,14 persen yang telah memanfaatkan untuk proses pembelajaran. Hal ini disebabkan beberapa kendala di antaranya belum mendapat pelatihan pengoperasian alat, listrik tidak memadai, ruangan belum siap, dan sumberdaya lainnya belum memadai.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon