Dana Kelolaan Industri Reksa Dana Tembus Rp 523,5 T
Senin, 18 Maret 2019 | 12:57 WIB
Jakarta, Beritasatu.com − Industri reksa dana Tanah Air membukukan total dana kelolaan (assets under management/AUM) di luar produk alternatif investasi sebesar Rp 523,5 triliun sampai 1 Maret 2019. Reksa dana saham dan terproteksi merupakan kontributor AUM dengan total kontribusi sebesar Rp 283,22 triliun.
Statistik pasar modal yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, total AUM di industri reksa dana (di luar produk alternatif investasi) tumbuh 6,19 persen dibandingkan periode sama 2018 sebesar Rp 492,97 triliun. Sedangkan secara tahun berjalan (year to date/ytd), nilai AUM industri reksa dana naik 3,58 persen dari posisi Rp 505,39 triliun. Adapun sampai 15 Maret lalu, data OJK menunjukkan, AUM reksa dana saham masih lebih rendah dibandingkan reksa dana terproteksi. "Reksa dana saham sebesar Rp 141,6 triliun dan reksa dana terproteksi sebesar Rp 140,62 triliun," demikian dikutip Investor Daily dari statistik pasar modal Februari 2019 OJK di Jakarta, Senin (18/3/2019).
Meski demikian, kini perbedaan AUM reksa dana saham dan terproteksi semakin mengecil. Pada 15 Maret lalu, AUM reksa dana terproteksi mengungguli AUM reksa dana saham yang menembus Rp 142,15 triliun. Sedangkan pada periode sama, AUM reksa dana saham baru sebesar Rp 138,46 triliun.
Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto menyampaikan, pada akhir 2019 total AUM di industri reksa dana, termasuk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT), produk berbasis kontrak investasi kolektif (KIK), dan dana investasi real estate (DIRE) sudah mencapai Rp 764 triliun. "Nilai tersebut tumbuh signifikan dibandingkan posisi Rp 222 triliun pada 2014," ujar Sujanto di Jakarta, belum lama ini.
OJK mendata, sejak 2015 hingga akhir Februari 2019 jumlah investor pasar modal meningkat. Khusus investor reksa dana, telah tembus di atas 1 juta single investor identification (SID).
Prospek Cerah
Head of Distribution Channel PT BNI Asset Management Andri Tribowo menyatakan, prospek pertumbuhan industri reksa dana di Indonesia tetap cerah. Pasalnya, saat ini kondisi fundamental Indonesia jauh lebih baik dibandingkan posisi pada 1998 dan 2008. "Kemudian berdasarkan konsesus di Bloomberg yang diikuti 30 perusahaan manajemen aset global dengan dana kelolaan besar, Indonesia masuk sebagai salah satu negara tujuan investasi favorit pada 2019," papar Andri kepada Investor Daily.
Untuk itu, BNI Asset Management memandang positif propek asset class di Indonesia, termasuk perkembangan reksa dana. Namun Andri mengingatkan, perusahaan manajer investasi perlu menggiatkan kerja sama distribusi untuk meraih pertumbuhan investor yang lebih baik, misalnya menggandeng perusahaan financial technology (fintech).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




