ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

APR Pamerkan Viscose-Rayon Berkelanjutan di Indo Intertex 2019

Sabtu, 30 Maret 2019 | 17:32 WIB
AB
AB
Penulis: Anselmus Bata | Editor: AB
Para model yang menampilkan busana dari bahan viscose, hasil produksi Asia Pasific Rayon (APR) saat Gala Dinner APR, Jakarta, Jumat 29 Maret 2019. APR menunjukkan eksistensinya sebagai pelaku industri yang mengutamakan aspek berkelanjutan dan menerapkan quality control terbaik dalam proses produksi.
Para model yang menampilkan busana dari bahan viscose, hasil produksi Asia Pasific Rayon (APR) saat Gala Dinner APR, Jakarta, Jumat 29 Maret 2019. APR menunjukkan eksistensinya sebagai pelaku industri yang mengutamakan aspek berkelanjutan dan menerapkan quality control terbaik dalam proses produksi. (BeritaSatu Photo/Emral Firdiansyah)

Jakarta, Beritasatu.com - Asia Pacific Rayon (APR) dan delapan perancang busana Indonesia memamerkan mahakarya desain menggunakan kain yang terbuat dari serat viscose-rayon yang mampu menjadi fashion berkualitas tinggi. Pameran tersebut merupakan bagian Indo Intertex 2019 yang diadakan di Jiexpo Kemayoran, Jakarta.

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Beritasatu.com, Sabtu (30/3), disebutkan para perancang bekerja sama dengan APR--yang merupakan salah satu produsen terbesar viscose-rayon di Asia yang terintegrasi--, untuk merancang koleksi desain berbasis bahan yang terbuat dari serat berkelanjutan (sustainable fiber). Ke depan, viscose-rayon dapat ditemukan di catwalk Paris, Milan, dan New York.

Dukungan APR untuk Project Runway, salah satu kompetisi fashion paling bergengsi, serta partisipasi mereka dalam Indo Intertex selaras dengan komitmen perusahaan untuk mengembangkan industri tekstil nasional seiring peta jalan Making Indonesia 4.0., dan untuk mendorong potensi perancang muda kreatif Indonesia ke kancah dunia.

"Potensi Industri tekstil dan fashion Indonesia semakin meningkat, sehingga pemerintah menargetkan ekspor tekstil bisa mencapai US$ 15 miliar tahun ini," ujar Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian, Muhdori.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kehadiran APR merupakan masa depan tekstil Indonesia karena dissolving pulp adalah masa depan industri tekstil dunia. "Kini ada diversifikasi produk tekstil yang tidak hanya berorientasi pada sandang, tetapi juga sudah masuk ke teknologi non-woven dan lain sebagainya," kata Muhdori.

Direktur APR, Basrie Kamba mengatakan APR yang mulai beroperasi awal tahun ini dengan kapasitas produksi sebanyak 240.000 ton viscose-rayon per tahun merupakan produsen viscose-rayon terintegrasi pertama di Asia dengan sumber bahan baku yang berkelanjutan dan terlacak.

"Kami yakin hasil produksi viscose-rayon APR dapat mendorong ekspor tekstil Indonesia lebih jauh. Kami optimistis APR juga dapat memberikan nilai lebih terhadap industri ekonomi kreatif Indonesia. Para perancang busana yang kami dukung hari ini menunjukkan bahwa sangat mungkin untuk memproduksi fashion berkualitas tinggi dari Indonesia, dengan viscose-rayon memberikan keunggulan kompetitif," lanjut Basrie.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan bahwa nilai ekspor tekstil Indonesia dapat mencapai Rp 444 triliun pada tahun 2025. APR menargetkan 96.000 ton viscose rayon dapat diekspor kepada sejumlah pasar ekspor global di 2019, termasuk Turki, Pakistan, Sri Lanka, dan Bangladesh.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon