ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kemperin Targetkan 10.000 IKM Bisa Go Digital

Selasa, 2 April 2019 | 16:20 WIB
SH
B
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: B1
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih (kiri) serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat M. Arifin Soedjayana (kanan) meresmikan acara e-Smart IKM 2019 dengan tema “IKM Go Digital” di Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/3/2019).
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih (kiri) serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat M. Arifin Soedjayana (kanan) meresmikan acara e-Smart IKM 2019 dengan tema “IKM Go Digital” di Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/3/2019). (istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemperin) menargetkan sebanyak 10.000 pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri ikut menjadi peserta program worskhop e-Smart IKM hingga akhir tahun 2019.

Pada periode 2017-2018, total peserta workshop e-Smart IKM telah mencapai 5.945 pelaku usaha dengan total omzet sebesar Rp 2,37 miliar. "Program e-Smart IKM yang diluncurkan sejak Januari 2017 lalu, merupakan langkah konkret dari pemerintah saat ini yang ingin menyiapkan IKM nasional bisa go digital atau menuju revolusi industri 4.0," kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Kemperin, Gati Wibawaningsih, di Jakarta, Selasa (2/4/2019).

Gati Wibawaningsih menjelaskan, pemanfaatan teknologi digital bagi pelaku IKM nasional menjadi penting untuk mendongkrak daya saingnya hingga kancah global. Upaya ini juga sebagai bagian dari pelaksanaan langkah-langkah prioritas yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

"Guna memacu IKM nasional berperan pada penerapan revolusi industri 4.0, kami terus mendorong mereka agar terlibat di e-commerce yang diimplementasikan dalam program e-Smart IKM," ujar Gati Wibawaningsih.

ADVERTISEMENT

Sampai saat ini, workshop e-Smart IKM sudah dilaksanakan di 34 provinsi dan telah melibatkan beberapa pihak seperti BI, BNI, Google, iDeA serta Kementerian Komunikasi dan Informatika. Selain itu, menggandeng pemerintah provinsi, kota dan kabupaten.

"Program e-Smart IKM juga telah bekerja sama dengan marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia," sebut Gati Wibawaningsih.

Lebih lanjut, program e-Smart IKM akan pula memfasilitasi pelaku usaha agar dapat mengakses pasar yang lebih luas melalui kerja sama dengan ATT Group selaku Authorized Global Partner Alibaba.com di Indonesia. "Kerja sama ini meliputi pelatihan pemasaran online bagi IKM dalam melaksanakan operasional di dalam Alibaba.com serta pertukaran data dan informasi mengenai perkembangan dan pencapaian IKM yang masuk di dalam program e-Smart IKM," kata Gati Wibawaningsih.

Gati Wibawaningsih optimistis revolusi industri 4.0 memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia dan menjadi salah satu cara mempercepat pencapaian visi Indonesia menjadi 10 ekonomi terbesar dunia pada tahun 2030.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 mencapai 5,17%, tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi ini tentunya didukung oleh pertumbuhan sektor manufaktur," ungkap Gati Wibawaningsih. Sementara itu, sepanjang 2018, kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional mencapai 17,63%.

Kontribusi tersebut, termasuk juga sumbangan dari sektor IKM yang selama ini merupakan tulang punggung bagi perekonomian nasional. Sebab, IKM merupakan sektor mayoritas dari populasi industri di Indonesia.

Berdasarkan data Sensus Ekonomi tahun 2016 dari Badan Pusat Statistik, IKM berjumlah 4,4 juta unit usaha, atau sekitar 99 persen dari seluruh unit usaha Industri. Sektor Industri Mikro, Kecil, dan Menengah menyerap 10,5 juta tenaga kerja, atau menyerap sekitar 65% tenaga kerja sektor industri secara keseluruhan.

"Melalui program e-smart IKM, sektor IKM kita diharapkan tidak akan ketinggalan dalam tren transaksi online di dalam situs jual beli, dan akan semakin banyak produk-produk IKM lokal yang kompetitif dan banyak mengisi di pasar e-commerce," kata Gati Wibawaningsih.

Oleh karena itu, Direktorat Jenderal IKMA Kemperin aktif menggelar kegiatan bertajuk "IKM Go Digital". Pada tahun ini, program tersebut telah diselenggarakan di Semarang, Bogor, dan Surabaya yang masing-masing wilayah dihadiri sebanyak 1.000 pelaku IKM. Acara ini dikemas dalam konsep pameran, talkshow, dan workshop.

"Saya gembira melihat antusiasme IKM untuk mengikuti acara tersebut, yang membuktikan bahwa IKM kita juga siap mengadopsi teknologi digital," kata Gati Wibawaningsih.

Adapun acara itu menghadirkan pembicara dari pihak marketplace, logistik, perbankan, financial technology, dan information technology.

Head of Government Relations Shopee, Radityo Triatmojo menyampaikan, pihaknya memiliki agenda prioritas yang sejalan dengan upaya Kemperin dalam pengembangan IKM nasional melalui pemanfaatan platform e-commerce.

"Di tahun 2018, lebih dari 20 kota di Indonesia, kami telah memberikan sesi kelas edukasi pada workshop e-Smart IKM. Selan itu, Shopee memberdayakan IKM dan produk lokal melalui kanal pemasaran Kreasi Nusantara," kata Radityo Triatmojo.

Radityo Triatmojo menambahkan, guna mendukung pertumbuhan IKM melalui e-commerce, Shopee baru-baru ini mengumumkan peluncuran program ekspor pertamanya, Kreasi Nusantara dari Lokal ke Global.

"Platform berdedikasi yang menampilkan produk-produk dari IKM buatan sendiri, Kreasi Nusantara telah berkembang pesat dan sekarang menampilkan sekitar 25.000 produk lokal, sementara pesanan telah meningkat lebih dari delapan kali lipat sejak diluncurkan," papar Radityo Triatmojo.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon