Kondisi Bisnis Makin Menantang, CEO Dituntut Harus Gesit

Kondisi Bisnis Makin Menantang, CEO Dituntut Harus Gesit
Ilustrasi KPMG (sumber: kpmg.com)
Herman / FER Kamis, 13 Juni 2019 | 16:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk menghadapi kondisi bisnis dan perekonomian global yang semakin menantang pada tahun-tahun mendatang, para pemimpin perusahaan atau CEO di dunia percaya bahwa kelincahan (agility) merupakan nilai penting untuk menjalankan sebuah bisnis. Hal ini terungkap dalam survei KPMG International Global CEO Outlook ke lima dengan melibatkan 1.300 CEO global yang menjadi responden. Survei ini juga mencakup pandangan 10 CEO Indonesia dari berbagai industri.

CEO KPMG Sidharta Advisory, Irwan Djaja, memaparkan, dari hasil survei tersebut, 67 persen responden mengatakan bahwa kelincahan atau agility adalah mata uang bisnis baru. Jika mereka tidak beradaptasi, bisnis mereka akan menjadi tidak relevan. Dalam situasi sekarang ini, di mana inovasi teknologi yang mendorong pertumbuhan, 84 persen CEO global dan 70 persen CEO Indonesia percaya bahwa budaya gagal-cepat (fail-fast culture) juga sangat diperlukan untuk saat ini, di mana organisasi harus bisa belajar cepat dari kegagalan yang dialami.

"Secara umum, dua pertiga CEO global mengatakan bahwa agility adalah kunci penting dalam menjalankan bisnis,” kata Irwan Djaja saat memberikan paparan hasil survei KPMG International Global CEO Outlook, di Jakarta, Kamis (13/6/2019).

Secara global, 53 persen CEO dalam survei tersebut optimistis dapat mencapai pertumbuhan bisnis hingga 2 persen dalam tiga tahun. Jumlah tersebut lebih rendah dari hasil survei yang dilakukan pada 2018, yaitu sebanyak 55 persen dari responden. Sementara itu, 10 persen CEO Indonesia yakin bahwa pertumbuhan pendapatan mereka akan lebih dari 10 persen selama tiga tahun ke depan, sementara 80 persen mengatakan akan kurang dari 2 persen.

"CEO Indonesia masih yakin terhadap pertumbuhan, tetapi hanya 10 persen yang yakin akan mencapai pertumbuhan pendapatan di atas 10 persen. Hal ini terutama karena mayoritas CEO Indonesia sedang fokus melakukan transformasi bisnis di organisasi mereka,” paparnya.

69 persen CEO yang disurvei mengatakan strategi kemanana siber yang kuat sangat penting untuk mendorong kepercayaan dengan para pemangku kepentingan utama (key stakeholder), dan sebagian besar (71 persen) memandang keamanan informasi sebagai faktor kunci dalam strategi inovasi mereka.

Ketika diminta untuk memprioritaskan antara membeli teknologi baru atau mengembangkan tenaga kerja mereka untuk meningkatkan ketahanan organisasi mereka, CEO secara global lebih menyukai opsi teknologi dengan perbandingan dua banding satu (68 persen vs 32 persen). Sementara CEO Indonesia memiliki persentase yang lebih tinggi (80 persen vs 20 persen).

"Setengah dari CEO Indonesia berpendapat bahwa sulit untuk mencari talenta yang mereka butuhkan,” kata Managing Partner KPMG Indonesia, Tohana Widjaja.

Kecerdasan buatan atau AI juga ada di benak CEO. Namun, hanya 16 persen yang telah mengimplementasikan program AI dan otomatisasi. Selanjutnya 31 persen masih dalam tahap uji coba, sementara 53 persen mengakui melakukan implementasi AI terbatas. Namun 65 persen CEO percaya bahwa masuknya AI dan otomatisasi akan menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang dihilangkan.



Sumber: BeritaSatu.com