ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Penurunan Bunga Gairahkan Properti

Jumat, 19 Juli 2019 | 17:12 WIB
IM
AA
B
Penulis: Imam Muzakir, Amrozi Amenan
Editor: B1
Konsumen bisa memantau progres pembangunan apartemen Synthesis Residence Kemang (SRK) melalui platform Live Streaming.
Konsumen bisa memantau progres pembangunan apartemen Synthesis Residence Kemang (SRK) melalui platform Live Streaming. (Beritasatu Photo)



Jakarta, Beritasatu.com – Penurunan suku bunga perbankan dinilai dapat membangkitkan pasar properti mengingat berkisar 75-80% pembelian properti menggunakan skema kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA). Pasar properti dalam empat tahun terakhir didera kelesuan sehingga membutuhkan stimulus. Selain persoalan bunga kredit, pengembang juga menanti sinkronisasi pemangkasan perizinan antara pemerintah pusat dan daerah.

Demikian rangkuman pendapat Chief Marketing Officer (CMO) PT Sayana Integra Properti Edward M Sinanta, Senior Director PT Ciputra Development Tbk Sutoto Yakobus, Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi , Sekjen DPP Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida, Ketua Umum Developer Properti Indonesia (Deprindo) Dadang I Sarjani, dan pengamat bisnis properti Panangian Simanungkalit. Mereka dihubungi secara oleh Investor Daily dari Jakarta dan Surabaya.

"Penurunan suku bunga akan membangkitkan pasar properti karena membuat KPA menjadi lebih murah sehingga konsumen bisa menyicil dan investasi properti menjadi lebih menarik," kata Edwin.

ADVERTISEMENT

Dia berharap, dengan suku bunga rendah banyak investor mencari alternatif lain untuk media investasi dan properti merupakan salah satu pilihan tersebut. "Hampir 80% buyer masih memakai KPR. Semakin rendah bunga akan semakin ringan cicilan," kata Sutandi.

Cicilan ringan, imbuhnya, akan menarik minat pembeli dan pada akhirnya mendongkrak penjualan produk properti. "Dan, tentu juga akan menggairahkan pengembang untuk terus berinvestasi," paparnya.

Harapan penurunan suku bunga kredit perbankan mencuat seiring langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7 DRRR) sebesar 0,25% menjadi 5,75% dari sebelumnya 6%, Kamis (18/7). "Kebijakan tersebut sejalan dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Sutoto menegaskan, bunga bank rendah meringankan cicilan pembeli atau sekaligus menaikkan daya beli konsumen. "Bunga bank yang rendah sekaligus membuat investasi properti lebih menarik," katanya.

Pertumbuhan Properti
Menurut Totok, beban berat yang dipikul pengembang dalam rezim bunga kredit tinggi juga dipengaruhi oleh lamanya perizinan pembangunan properti. Kian lama proses periizinan, kian berat beban bunga yang dipikul. Kini, separuh dari beban biaya produksi pengembang adalah bunga bank. "Kini, mengurus izin bisa sampai dua tahun. Karena itu, harus disinkronkan kebijakan pemangkasan perizinan di tingkat pusat dengan pemerintah daerah," tegasnya.

Saat ini, kata dia, bunga pinjaman masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan suku bunga acuan BI. Karena itu, REI menilai seharusnya selisih bunga (spread) bank harus mampu ditekan. "Kami imbau spread mereka cukup 3% saja," tukasnya.
Bagi Sutoto, besaran kontribusi komponen bunga perbankan terhadap biaya produksi pembangunan properti beragam. Hal itu tergantung pada jenis propertinya. "Kalau properti untuk disewakan pinjaman, kontribusi pinjaman di kisaran 30-40% dari biaya pembangunan. Sedangkan kalau properti yang dijual umumnya lebih kecil karena sifatnya pinjaman modal kerja yang dibayar dari hasil jualan yang umumnya cepat," tukas dia.

Untuk saat ini, sambung Sutoto, bunga KPR berada di kisaran 6-7% sudah bagus. "Kalau bunga kredit investasi atau modal kerja sebaiknya di bawah 8,5%," tandasnya.

Panangian bahkan menilai, tingkat bunga BI 7 DRRR yang ideal adalah 4,5%. Semakin rendah suku bunga acuan, kian rendah bunga KPR. "Lalu, semakin rendah KPR semakin banyak orang yang tertarik membeli rumah. Hal itu juga karena saat ini, 75% pembeli rumah memanfaatkan KPR," kata dia.

Di sisi lain, tambahnya, semakin rendah suku bunga acuan, kian rendah bunga kredit konstruksi. Rendahnya bunga kredit akan meringankan biaya produksi pengembang. "Hampir seluruh pengembang memerlukan kredit konstruksi," urai dia.

Panangian memperkirakan, tahun 2019, pertumbuhan sektor properti berkisar 5-6% dibandingkan dengan 2018. Kapitalisasi pasar properti tahun 2019 bisa mencapai total Rp 114 triliun. Dari jumlah tersebut sekitar Rp 80 triliun merupakan kontribusi segmen perumahan. Di lini perumahan, kontributor utama adalah perumahan sederhana atau rumah bersubsidi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Kredit Properti Melambat 9 Bulan Berturut-turut

Pertumbuhan Kredit Properti Melambat 9 Bulan Berturut-turut

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon