Krisis, Atlas Tunda Obligasi Rp1,2 T
Rabu, 27 Juni 2012 | 14:14 WIB
Krisis utang utang yang melanda negara-negara di Eropa mengakibatkan gejolak di pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.
Perusahaan batu bara, PT Atlas Resources Tbk (ARII) menunda penerbitan obligasi senilai maksimum Rp1,2 triliun setelah mempertimbangan kondisi pasar yang kurang kondusif.
Presiden Direktur Atlas, Andre Abdi mengatakan, krisis utang utang yang melanda negara-negara di Eropa mengakibatkan gejolak di pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.
“Dengan sebagian besar penggunaan dana obligasi untuk refinancing, maka penundaan emisi obligasi ini tidak akan mempengaruhi kondisi keuangan," kata dia, hari ini.
Dia mengatakan, fasilitas pinjaman yang semula akan di-refinancing tersebut masih tetap berjalan. Jika dibutuhkan perseroan dapat menjajaki penambahan fasilitas pinjaman baru.
Saat ini perseroan tengah melaksakan penawaran awal (bookbuilding) dalam rangka Penawaran Umum Obligasi Atlas Resources I Tahun 2012 tersebut.
Seperti telah diketahui sebelumnya, Obligasi Atlas Resources I Tahun 2012 (Obligasi) ditawarkan dengan jumlah maksimum sebesar Rp1,2 triliun dalam tiga seri yang terdiri dari Obligasi Seri A dengan tenor 3 tahun, Seri B dengan tenor 5 tahun, dan Seri C dengan tenor 7 tahun.
Rencananya, dana penerbitan obligasi sekitar 65 persen digunakan untuk pembayaran kembali utang perseroan dan atau anak perusahaan kepada krediturnya. Sementara sekitar 35 persen digunakan untuk belanja modal dan modal kerja perseroan.
Menurut Andre, perseroan berkeyakinan target pengembangan kapasitas produksi batu bara tetap berjalan sesuai rencana.
Hingga akhir 2011 perseroan sendiri mampu memproduksi 1,28 juta ton. Sementara kapasitas produksi tercatat sebesar 2,38 juta ton per tahun di tahun 2011. Hingga saat ini, total cadangan batu bara perseroan sudah mencapai 104 juta ton dengan total sumber daya batubara sekitar 378 juta ton.
Perusahaan batu bara, PT Atlas Resources Tbk (ARII) menunda penerbitan obligasi senilai maksimum Rp1,2 triliun setelah mempertimbangan kondisi pasar yang kurang kondusif.
Presiden Direktur Atlas, Andre Abdi mengatakan, krisis utang utang yang melanda negara-negara di Eropa mengakibatkan gejolak di pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.
“Dengan sebagian besar penggunaan dana obligasi untuk refinancing, maka penundaan emisi obligasi ini tidak akan mempengaruhi kondisi keuangan," kata dia, hari ini.
Dia mengatakan, fasilitas pinjaman yang semula akan di-refinancing tersebut masih tetap berjalan. Jika dibutuhkan perseroan dapat menjajaki penambahan fasilitas pinjaman baru.
Saat ini perseroan tengah melaksakan penawaran awal (bookbuilding) dalam rangka Penawaran Umum Obligasi Atlas Resources I Tahun 2012 tersebut.
Seperti telah diketahui sebelumnya, Obligasi Atlas Resources I Tahun 2012 (Obligasi) ditawarkan dengan jumlah maksimum sebesar Rp1,2 triliun dalam tiga seri yang terdiri dari Obligasi Seri A dengan tenor 3 tahun, Seri B dengan tenor 5 tahun, dan Seri C dengan tenor 7 tahun.
Rencananya, dana penerbitan obligasi sekitar 65 persen digunakan untuk pembayaran kembali utang perseroan dan atau anak perusahaan kepada krediturnya. Sementara sekitar 35 persen digunakan untuk belanja modal dan modal kerja perseroan.
Menurut Andre, perseroan berkeyakinan target pengembangan kapasitas produksi batu bara tetap berjalan sesuai rencana.
Hingga akhir 2011 perseroan sendiri mampu memproduksi 1,28 juta ton. Sementara kapasitas produksi tercatat sebesar 2,38 juta ton per tahun di tahun 2011. Hingga saat ini, total cadangan batu bara perseroan sudah mencapai 104 juta ton dengan total sumber daya batubara sekitar 378 juta ton.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




